ADVERTORIAL

Pelatihan Perawatan dan Rehabilitasi Ortopedi oleh BSN untuk Tingkatkan Pelayanan kepada Pasien

Sesuai dengan visi yang berfokus pada inovasi dan pengembangan produk-produk bermerek kelas dunia, menawarkan produk berkualitas tinggi, dan solusi terapi kepada pasien dan para pelanggan, PT BSN medical Indonesia mengadakan pelatihan di lima kota besar di Indonesia. Pelatihan yang bertemakan "Presentation and Demonstration on Plaster and Elastic Bandage Application" bertujuan untuk meningkatkan dan memperluas pengetahuan dokter dan paramedis lain tentang kasus-kasus ortopedi non operatif dan keterampilan dalam teknik penanganan berbagai kasus fraktur secara konservatif yang lebih aman, efektif, dan ekonomis. Pelatihan yang dimulai sejak 22 Oktober 2002 sampai 28 Oktober 2002 diikuti oleh paramedis, perawat, residen, dan dokter-dokter ahli ortopedi terkemuka di Indonesia.

Workshop pertama diadakan di Bandung bekerja sama dengan Bagian Bedah Ortopedi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/RSU Hasan Sadikin Bandung. Pelatihan yang menghadirkan beberapa ahli ortopedi terkemuka di kota ini diikuti kurang lebih 200 peserta.

DR. Dr. Fachry A.Tandjung, M Phil ketua panitia pelatihan di kota kembang, ini menyatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi para dokter dan perawat yang bertugas menangani kasus-kasus trauma. Acara ini menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan dari ahli bedah ortopedi yang sudah lebih berpengalaman. Melalui acara ini para praktisi ortopedi juga dapat menyerap ilmu tentang penanganan trauma secara konservatif, khususnya dengan gips, dengan tepat dan benar. "Banyak kasus ortopedi yang dapat diselesaikan tanpa operasi, namun teknis pelaksanaannya harus benar agar hasilnya maksimal. Oleh sebab itu, perlu diadakan semacam penyegaran (refreshing) untuk yang sudah berpengalaman (qualified) atau alumni dan memberikan masukan baru bagi residen yang baru dan perawat," demikian ungkap dokter spesialis bedah ortopedi yang menjabat sebagai Kepala Pelatihan Ortopedi FK Unpad/RSHS Bandung.

Acara workshop tersebut diawali dengan seminar panelis yang menampilkan tiga pembicara. Pembicara pertama yakni Dr. HermawanN. Rasyid, SpBO, menerangkan tentang pentingnya imobilisasi dalam penyembuhan fraktur dengan tema "Conservative Treatment of Lower Extremity." Sementara, Dr. H. Mustafa, SpBO; yang membawakan makalah berjudul "Reduction and Immobilization in Fracture Management" menyatakan bahwa secara alamiah fraktur akan mengalami perbaikan dengan pembentukan kalus yang dapat menyatukan fragmen tulang. Penanganan fraktur secara konservatif di antaranya pemulihan kesatuan tulang dengan imobilisasi dan traksi. Imobilisasi untuk mendapatkan stabilisasi fraktur dapat dilakukan dengan menggunakan kayu, plastik, dan plaster. Pada akhir acara yang merupakan tema utama workshop ini yakni "Presentation and Demonstration on Plaster and Elastic Bandage Application". Hadir sebagai pembicara dalam acara ini Prof. Dr. Soelarto Reksoprodjo, SpB, SpBO yang memberikan materi secara lisan dan demonstrasi mempraktikkan pemasangan gips yang tepat dan benar secara langsung.

Di Jakarta, workshop diadakan di Aula bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Acara yang diselenggarakan atas kerjasama antara PT BSN medical Indonesia dengan Divisi traumatologi FKUI/RSCM menghadirkan Prof. Dr. Soelarto Reksoprodjo, SpB, SpBO sebagai pembicara sekaligus pemandu yang melakukan demonstrasi pemasangan gips kepada dokter dan paramedis yang hadir saat itu. Pada kesempatan tersebut juga diperkenalkan dan didemonstrasikan cara pemasangan gips sintetik. Gips yang berbahan dasar fiber glass ini merupakan salah satu produk PT. Terbaru dari BSN medical. Bahan seperti ini membuat pasien lebih nyaman dan leluasa. Peserta mengikuti demonstrasi ini dengan antusiasme yang tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya pertanyaan tentang langkah-langkah pemasangan gips dan prosedur pemakaian tiga serangkai gips (Tricofix, Soffban/Artiflex, Gypsona/Leukodur) yang tepat dan benar.

Workshop selanjutnya yang diadakan di Madiun, tepatnya di Rumah Sakit Soedono, menghadirkan beberapa pembicara yang membahas topik seputar ortopedi. Topik pertama yang bertema "Penanganan non operatif kasus-kasus ortopedi" dibawakan oleh Dr. Heri Suroto, SpBO. Pada kesempatan tersebut dijelaskan teknik penanganan kasus fraktur secara konservatif yang merupakan langkah pertama sebelum ditangani lebih lanjut. Pada seminar ini juga dijabarkan kasus-kasus ortopedi yang memerlukan tindakan non operatif. Demonstrasi yang mendapat tanggapan sangat antusias dipandu oleh Dr. Bimo Sasono, SpBO.

Kota pahlawan Surabaya menjadi kota keempat dalam pelaksanaan workshop ini. Seminar dan demonstrasi yang bertempat di Hotel Sheraton, ini menghadirkan Dr. I Ketut Martiana, SpBO dan Dr. Herman Santoso, SpBO, Msc. Acara dilanjutkan dengan Workshop dalam bentuk presentasi dan demonstrasi secara langsung dalam beberapa bentuk aplikasi seperti pemasangan gips pada lengan dan kaki. Beberapa trik dikemukakan agar hasil gips sesuai dengan fungsi sebenarnya.

Kota terakhir dalam rangkaian acara ini adalah Yogyakarta. Pelatihan dilakukan bersamaan dengan penyelenggaraan Kongres Nasional Persatuan Ahli Bedah Ortopedi Indonesia (PABOI) ke-13 yang berlangsung dua hari berturut-turut. Workshop yang diadakan di Hotel Sahid Raya dengan tema "Perawatan dan Rehabilitasi Ortopedi untuk Perawat" menghadirkan beberapa pembicara yang membahas penanganan trauma tulang belakang dan fraktur tulang panjang. Acara diawali penjelasan yang diberikan oleh Dr. Tedjo Rukmoyo, SpBO, mengenai "Perawatan Pre dan Post Operasi Trauma Tulang Belakang". Sementara Dr. Tunjung S. Soeharso, SpBO, dari Rumah Sakit Ortopedi membawakan makalah dengan judul "Perawatan Pre dan Post Operasi Tulang Panjang." Pembicara terakhir dr. Ahmad Fuath, SpRM menguraikan mengenai "Rehabilitasi Post Operasi Trauma Tulang Belakang dan Tulang Panjang". Pembicara utama Dr. Ismail Maryanto, SpBO, FICS diundang khusus PT. BSN medical Indonesia dan melakukan demonstrasi teknik pemasangan gips yang baik dan benar. Demonstrasi meliputi tiga jenis pemasangan gips yakni pada pergelangan tangan (netral), pergelangan kaki (S L plaster), dan torakolumbal (body cast).

Dalam penatalaksanaan fraktur, pemasangan gips sebagai salah satu teknik imobilisasi/fiksasi eksternal merupakan hal yang sangat penting. Karena itu dibutuhkan produk yang berkualitas tinggi dan aman bila dipakai di kulit. Dengan berpegang pada visi, fokus dalam inovasi dan pengembangan produk merek kelas dunia yang berkualitas, serta solusi terapi bagi pasien, PT BSN medical Indonesia menghadirkan produk-produk dengan hasil yang sempurna dengan pelayanan eksklusif dan total biaya yang lebih efisien. Meskipun merupakan nama baru di pasar alat kesehatan Indonesia, perusahaan ini merupakan gabungan dua nama besar dalam bidang perawatan kesehatan dunia, Beiersdorf dan Smith + Nephew, yang memiliki pengalaman, kualitas, pelayanan dan kekuatan inovasi yang dapat diandalkan dalam bidang Professional Wound Care, Casting (Immobilization) dan Bandaging.

Beberapa produk yang biasa dipakai untuk gips antara lain Gypsona dan Leukodur. Gypsona merupakan pembalut gips yang kuat yang terbuat dari kasa leno dan gips pilihan yang berkualitas tinggi. Sedangkan Leukodur terbuat dari kasa katun linen yang tidak memiliki sambungan dengan bahan gips pilihan berkualitas tinggi dengan standar BP. Kedua bahan pembalut gips ini memiliki keunggulan karena susunan gips berpori dengan daya serap air yang tinggi dan merata, hasil balutan gips yang kuat dan kokoh, lebih ringan, dan lebih ekonomis. Keduanya juga sangat mudah dibentuk sesuai bentuk tubuh dengan hasil balutan yang halus, rapi, dan kuat.

Untuk bantalan dasar di bawah pembalut gips, PT BSN medical Indonesia juga mengeluarkan produk seperti Artiflex dan Soffban. Bantalan ini terbuat dari polyester polypropylene yang tidak menyerap air dan hanya mendapat sedikit kelembaban sehingga tetap memberikan efek bantalan yang stabil dengan ketebalan yang bisa diatur. Keunggulan lainnya adalah aman dipakai di kulit dan hipoalergenik karena tidak menggunakan bahan kimia apapun, serta dapat disterilkan dengan otoklaf. Sedangkan untuk pembalut tubularnya, perusahaan ini menciptakan Tricofix, yang terbuat dari 100% katun yang fleksibel, tidak mengubah posisi tulang yang patah, dapat disterilisasi dengan otoklaf, dan tembus sinar rontgen.

Seperti diterangkan Dra. Putty Kartika, Apt. Marketing & Sales Manager PT BSN medical Indonesia, "Pembalutan yang baik dan benar harus dimulai dari pembalut tubular (tubular bandage) yakni Tricofix dan diikuti dengan bantalan dasar di bawah pembalut gips dalam hal ini Artiflex atau Soffban. Baru diikuti dengan Leukodur atau Gypsona untuk menghasilkan gips yang kuat dan kokoh sehingga memberikan kestabilan yang optimal dengan biaya terapi secara keseluruhan yang lebih efisien."

Menanggapi antusiasme para peserta dalam mengikuti workshop di liman kota tersebut, beliau menyatakan," Antusiasme peserta yang tinggi dalam kesempatan ini akan memicu PT. BSN medical Indonesia untuk terus meluncurkan kegiatan-kegiatan yang bersifat scientific untuk meningkatkan ilmu pengetahuan paramedis pada masa yang akan datang secara berkesinambungan sesuai dengan visi dan misi BSN medical."