SEKEDAR PENYEGAR

Profil Kependudukan, Sosial Ekonomi, dan Kesehatan Pasca Krisis Ekonomi (Studi Kasus di ASEAN pada 2000)

TURNIANI LAKSMIARTI DAN SARWANTO
Puslitbang Pelayanan dan Teknologi Kesehatan, Surabaya


Pendahuluan

Secara teoritis, kemakmuran dan peningkatan pendapatan suatu negara akan berdampak positif terhadap tingkat kesehatan warga negaranya. Sejak dicanangkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2003, tidak ada batas perdagangan antara negara– negara ASEAN. Ini ditandai dengan terjadinya interpenetrasi dan interdependensi dari semua sektor, baik ekonomi, politik, maupun sosio kultural. Keadaan ini menyebabkan terjadinya transformasi masyarakat menjadi masyarakat global sehingga batas negara menjadi tidak jelas. Liberalisme perdagangan menjadi ciri utama globalisasi. Selain itu, kemudahan dalam transportasi dan informasi akan menjadi ancaman besar bagi negara–negara berkembang.

Kebijakan GATS (General Agrement on Trade in Service) dan TRIPS (Agrement on Trade- Related Aspect of Intelectual Property Rights) akan sangat berpengaruh terhadap berbagai aspek penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat di negara berkembang (Koesrianti, 2000).

Sejak tiga tahapan terakhir, rata–rata pertumbuhan ekonomi di negara–negara ASEAN meningkat kurang lebih 7% dari GDP (Gross Domestic Product) dalam tahun 1986 s.d. 1996. Namun, sejak terjadinya krisis ekonomi mengalami penurunan yang drastis. Dari sektor properti, misalnya, mencapai minus 13 %. Ini disebabkan antara lain oleh terjadinya nilai tukar uang dollar yang cukup tinggi dengan kenaikan sebesar 11,4% pada 1996 dan 13% pada 1998. Dengan demikian, ini merupakan suatu permasalahan yang mendasar.

Sedang dalam bidang kesehatan, dampak krisis ekonomi tersebut mempengaruhi berbagai indikator kesehatan, antara lain tingkat kematian pendududuk cenderung meningkat. Sementara itu, tingkat pertambahan penduduk dari tahun ke tahun cenderung menurun. Dampak langsung akibat krisis dimaksud adalah meningkatnya penyakit HIV/AIDS, tuberkulosis, dan DHF.

Tulisan ini mencoba mengkaji permasalahan yang terjadi di negara–negara ASEAN, khususnya yang terkait dengan kependudukan, sosial ekonomi, dan beberapa indikator kesehatan serta implikasinya.

Metodologi/Bahan dan Cara
Studi ini merupakan studi pustaka dengan memanfaatkan data dari referensi di perpustakaan dan internet. Beberapa variabel yang akan dianalisis adalah penduduk, pertumbuhan penduduk, GDP, eksport – import, pinjaman/bantuan dari negara tetangga, angka kelahiran, angka kematian, umur harapan hidup, dsb. Analisis dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi, tabel, dan grafik.

Hasil
Jumlah Penduduk

Dari Population Reference Bureau 2000, jumlah penduduk di negara–negara ASEAN dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada 1999, jumlah penduduk Indonesia yang tercatat adalah 197.464 juta jiwa dan pada 2000 tercatat 213,607 juta jiwa. Ini berarti mengalami kenaikan sebesar 8,17%. Sedang negara-negara ASEAN lainnya rata–rata setiap tahun mengalami kenaikan, yaitu 41% untuk Brunei Darussalam; 12% Kamboja; 5,5% Thailand; 6% Myamar; 14,6% Laos; 11,9% Pilipina; 1% Singapura; 8,7% Vietnam; dan 11,2% Malaysia. Sedang jumlah penduduk yang terendah adalah Brunei Darussalam, tercatat 0,330 juta jiwa pada 2000 dan Laos 5,472 juta jiwa pada 2000 (World Population 1999--2000, United Nation Population Division).

Sosial Ekonomi

Menurut Asia week, 1999, pendapatan nasional dari sektor produksi (GDP) perkapita di negara–negara ASEAN pada 1999 sebesar $ US 28.235 untuk Singapura dan terendah $ US 790 untuk Myanmar. Sedangkan pada 1999, angka pertumbuhan ekonomi terendah menimpa Indonesia, yaitu minus 19,5% dan tertinggi Laos, yaitu 7,2%.

Eksport
Amerika adalah negara tujuan eksport produk negara–negara ASEAN. Sejak triwulan pertama 1999, hasil eksport mengalami penurunan sebesar 11% dari total nilai eksport. Pada periode April 1998 sampai April 1999, nilai eksport dari ASEAN sebesar $ US 13.6 triliun sedang pada 1999 sebesar $ US 12.2 triliun.

Import
Menurut US – ASEAN, 1999, secara umum nilai import negara-negara ASEAN dari Amerika periode Januari–April 1999 mengalami kenaikan sebesar 0,04%. Tabel 2 menunjukkan kenaikan nilai import di Malaysia sebesar 8%, penurunan di Pilipina dan Singapura sebesar 8%, bahkan di Laos penurunannya mencapai 33%. Sedangkan kenaikan import untuk Brunei dan Kamboja dari Amerika pada 1999 masing-masing melebihi 5 kali dan 1,5 kali lipat dibanding 1998.

Bantuan/Pinjaman Melalui Asian Development Bank
Pada 1998, ADB mengeluarkan dana sebesar $US 6 triliun untuk 57 proyek di areal ASEAN. Hal ini diharapkan akan dapat mengatasi krisis ekonomi yang terjadi akibat jatuhnya nilai tukar mata uang negara-negara ASEAN terhadap dollar. Besarnya bantuan tersebut dapat dilihat pada tabel 3.

Indikator Kesehatan
Angka Kelahiran (CBR)

Angka kelahiran di setiap negara ASEAN pada 2000 cenderung menurun sekitar 1% bila dibandingkan 1999. Namun, terjadi peningkatan 0,5% di Thailand (yaitu 6,7% pada 1999 dan 7,2% pada 2000), serta 1% di Kamboja (yaitu 35% pada 1999 dan 36% pada 2000). Sedang jumlah ibu hamil di negara – negara ASEAN yang terbesar adalah pada 2000, yaitu di Kamboja (4,6%) dan Laos (4,8 %).

Angka Kematian (CDR)

Angka kematian di beberapa negara ASEAN cenderung menurun, namun sebagian cenderung meningkat. Thailand mempunyai angka kematian terbesar dibanding dengan negara–negara lain, yaitu 57 per 1000 penduduk pada 1999 meningkat menjadi 58,3 per 1000 penduduk. Sedang Brunei angka kematian penduduk paling rendah, yaitu 3,2 per 1000 penduduk (pada 2000) dibandingkan Singapura 5,2 per 1000 penduduk.

Angka Kematian Bayi (IMR)
Angka kematian bayi di Indonesia 48 per 1000 kelahiran hidup pada 2000. Di negara-negara ASEAN, angka kematian bayi yang paling tinggi adalah Kamboja, yaitu 103 per 1000 kelahiran hidup, disusul Laos sebesar 93 per 1000 kelahiran hidup.

Umur Harapan Hidup

Umur harapan hidup warga negara Indonesia untuk pria 64 tahun dan 67 tahun untuk wanita. Sedang umur harapan hidup di beberapa negara di ASEAN dapat dilihat pada tabel 4. Tampak bahwa umur harapan hidup tertinggi adalah Singapura, yaitu 75 tahun untuk pria dan 80 tahun untuk wanita. Sedangkan terendah adalah Kamboja, yaitu 51 tahun untuk pria dan 55 tahun untuk wanita.

Jenis Penyakit

1. AIDS (Aquired Immune Deficiency Syndrome )
Merupakan suatu penyakit masyarakat yang perkembangannya cukup cepat dan membutuhkan penyembuhan secara serius. Dari data WHO SEARO, dari 23 juta penduduk yang terserang AIDS, 40% di antaranya adalah wanita. Sedang kasus AIDS di Indonesia sebesar 152 (12 orang per 100.000) penduduk, relatif rendah bila dibandingkan dengan Thailand, yaitu 59.782 (1.345 orang per 100.000 penduduk terinfeksi). Beberapa penyebab terinfeksinya AIDS adalah penggunaan jarum suntik, prostitusi, dan wanita pekerja seksual (wanita yang sering ganti pasangan bukan suaminya). Berdasarkan pengamatan dari 1995 sampai 1997, 91% yang terinfeksi AIDS berusia antara 15–49 tahun (WHO, Comparation With Other Countries, Chapter VI).

2. Tuberkulosis
Dari data yang ada di WHO, kasus tuberkolosis pada 1993 yang menyerang 8 juta penduduk, 3 juta penduduk di antaranya tidak tertanggulangi atau meninggal dunia. Di ASEAN, pada 1995 kasus tuberkolosis yang terbesar terjadi di Indonesia, mencapai 460.190 penduduk. Dari data 1996, kasus tuberkolosis terbesar adalah Pilipina, mencapai 276.295. Insidens per 100.000 penduduk sebesar 40.057. Sedangkan Indonesia 12,29 per 100.000 penduduk (WHO, Comparation With Other Countries, Chapter VI).

3. DHF (Dengue Hemmorhagic Fever)
Merupakan suatu problem kesehatan masyarakat. Pada 1997 terdapat 31.784 kasus DHF dengan insiden kejangkitan 15,28 per 100.000 penduduk., Indonesia merupakan urutan keempat di antara negara–negara ASEAN. Singapura ( 108,84 ); Vietnam (97,91), Thailand ( 63,84 ), dan Brunei (0,34) per 100.000 penduduk (WHO, Comparation With Other Countries, Chapter VI).

Kondisi Setiap Negara

1. Brunei Darussalam
Jumlah penduduk Brunei relatif lebih rendah dibandingkan negara–negara ASEAN lainnya (0,330 juta jwa) dengan penghasilan utama adalah minyak, LNG, dan jasa konstruksi, di samping pertanian. Pada 1999 Brunei mengalami inflasi sebesar 1%, dengan pendapatan perkapita dari hasil produksi masih cukup besar, yaitu $ US 17,400 yang berangsur meningkat pada 2000 menjadi $ US 20,000. Dengan jumlah penduduk yang relatif kecil dan GDP yang tinggi maka Brunei merupakan negara yang kehidupan warga negaranya terjamin. Sebagian dari pendapatannya digunakan untuk program perumahan, pendidikan, pangan, serta memberikan subsidi pada warga negaranya yang belum mendapatkan pekerjaan.

Dalam kondisi krisis yang dialami oleh negara tetangga (ASEAN), Brunei tidak banyak berpengaruh secara signifikan. Dalam meningkatkan GDP, pemerintah Brunei bekerja sama dengan negara–negara ASEAN, Jepang, Korea, Uni Eropa, dan Taiwan (dalam bidang eksport oli dan LNG). Dalam bidang import, Brunei bekerja sama dengan ASEAN, Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang (dalam kegiatan alat–alat transport, mesin, dan peralatan kimia).

Dalam Global Road Warrior-Country Facts, di bidang kesehatan disebutkan bahwa umur harapan hidup penduduk Brunei 73 tahun untuk pria dan 78 tahun untuk wanita. Angka kelahiran pada 2000 mengalami penurunan dari 23,3 (pada 1999) menjadi 20,8 (pada 2000) per 1000 penduduk. Sedang angka kematian mengalami kenaikan, yaitu 3,1 (1999) dan 3,2 (2000) per 1000 penduduk. Angka kematian bayi pada 2000 mencapai 10 per seribu kelahiran hidup.

2. Kamboja
Jumlah penduduk Kamboja pada 2000 sebesar 11.230 juta jiwa, terjadi kenaikan sebesar 12% dari 1999. Sedang angka pertumbuhan ekonomi terjadi kenaikan sebesar 2% (2000 ). Apabila dihitung secara rata–rata maka pertumbuhan pendapatan dimaksud tidak dapat dinikmati oleh setiap penduduk seperti yang digambarkan, sehingga pemerintah Kamboja masih memerlukan bantuan pinjaman dari ADB sebesar $ US 40 juta dengan dukungan teknik sebesar $ US 1,4. juta Dalam bidang kesehatan, akibat krisis ekonomi terjadi tingkat kematian bayi sebesar 103 per 1000 kelahiran hidup, yang merupakan urutan tertinggi dibanding negara ASEAN lainnya. Begitu pula dengan angka kelahiran dan umur harapan hidup, Kamboja relatif rendah. Untuk umur harapan hidup kaum pria 51 tahun sedang wanita 55 tahun (US-ASEAN Business Report, Third Quarter 1999 Vol.10, No.3).

3. Indonesia
Indonesia merupakan negara ASEAN yang terbesar penduduknya dibanding dengan negara–negara ASEAN lainnya. Sedang tingkat pertumbuhan ekonomi akibat krisis yang dialami pada 1997 sampai dengan 2000 belum menunjukkan perkembangan yang positif (pada 2000 mencapai minus 19,5%). Sementara itu, nilai eksport pada 1998 dan 1999 mengalami penurunan hingga minus 26%. Begitu pula dengan nilai import yang menjadi urutan kedua setelah Thailand. Walaupun kondisi ekenomi terpuruk, indikator-indikator dalam bidang kesehatan tidak banyak terpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan ekonomi. Ini terlihat pada tingkat pertumbuhan penduduk yang cenderung berkurang. Sedang tingkat kematian bayi menurun walaupun masih di bawah Singapura (US-ASEAN Business Report, Third Quarter 1999 Vol.10, No.3).

4. Thailand
Penduduk Thailand pada 2000 tercatat 61,844 juta jiwa. Terdapat kenaikan sebesar 5,5% dibanding 1999. Pertengahan 1997, Thailand juga mengalami krisis ekonomi seperti negara–negara ASEAN lainnya, namun pada 1998 Thailand secara perlahan keluar dari masa krisis, yaitu dengan adanya suntikan dana dari IMF dan ADB, serta bantuan dari Jepang dalam bentuk peningkatan sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, peningkatan promosi di bidang pertanian, dan tukar pakar tentang teknologi lingkungan yang kemudian hasilnya merupakan komoditi eksport dari negara Thailand. Dalam menambah wawasan penduduk, pemerintah Thailand menaikkan nilai import dari negara-negara maju sebesar 2%. Hal ini untuk mengimbangi hasil produksi industri yang relatif rendah, yaitu minus 25%.

Dalam bidang kesehatan, umur harapan hidup 65 tahun untuk kaum pria dan 68 tahun untuk wanita. Sedang kasus penyakit di masyarakat yang lain, yaitu HIV/AIDS cukup tinggi. Sebanyak 59.782 jiwa terindikasi terserang atau 13,45 per 1000 penduduk dengan rata–rata usia 15 tahun hingga 49 tahun (Japan’s Oda in Thailand, Annual Report 1999).

5. Myanmar
Merupakan negara ASEAN yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi, yaitu 5%, sedang pendapatan perkapita mencapai $ US 790. Dalam kondisi krisis ekonomi, Myamar masih sanggup untuk melakukan eksport ke negara-negara maju walaupun cenderung tetap (4%). Tingkat pertumbuhan penduduk mengalami kenaikan sangat rendah (0,8%). Secara teoritis, tingkat pertumbuhan penduduk dari masa ke masa merupakan faktor penghambat dalam perkembangan ekonomi. Untuk itu, perlu adanya konsekuensi dalam tingkat pertumbuhan ekonomi. Dalam bidang kesehatan, angka kematian bayi di Myamar masih cukup tinggi, yaitu 79 per 1000 kelahiran hidup. Sedang tingkat kematian penduduk terdapat kenaikan sebesar 3,5 per 1000 penduduk, yaitu sebesar 54,7 pada 1999 dan 58,2 per 1000 penduduk pada 2000 (Youth at the United Nations, Country Profiles on the Situation of Youth Myanmar).

6. Laos
Pada 1997, krisis ekonomi yang dialami di Laos salah satunya diakibatkan adanya perubahan nilai tukar uang. Pada 1999 Laos mendapat bantuan dari IMF yang selanjutnya digunakan untuk perbaikan dalam bidang pertanian. Disadari bahwa 80% penduduk Laos bekerja dalam bidang pertanian, sehingga setengah dari GDP adalah hasil pertanian. Dari hasil pertanian tersebut, pada 2000 GDP mencapai 4% dengan nilai eksport sebesar $ US 323 juta. Dalam hal ini Laos bekerja sama dengan Vietnam , Thailand, German, Perancis, dan Belgia. Sedang nilai import sebesar $ US 540 juta dan bekerja sama dengan Thailand, Jepang, Vietnan,China, Singapura, serta Hongkong. Dalam bidang kesehatan terdapat kenaikan, yaitu angka kelahiran dari 12,1 per 1000 penduduk pada 1999 menjadi 13,6 per 1000 penduduk pada 2000. Pada 2000, angka kematian terdapat kenaikan sebesar 0,6% dibandingkan 1999. Laos juga merupakan negara yang penduduknya sebagian teridentifikasi terjangkit HIV/AIDS. Tercatat pada 1999 kasus sejumlah 130 jiwa dari 5,472 juta (CIA, The World Fact book – Laos, 2000).

7. Malaysia
Krisis ekonomi yang dialami di Malaysia pada 1997 secepatnya berakhir dengan melakukan perubahan manajemen pemerintahan. Yaitu dengan menetapkan sistem baru dalam bidang pemasaran hasil produk dan memperbaiki sektor keuangan dengan cara melakukan pinjaman luar negeri, yang antara lain dengan negara Jepang. Selain bantuan berupa uang, juga dalam sektor lain, yaitu peningkatan sumber daya manusia dengan mengirim sebagian penduduknya ke Jepang untuk belajar dalam bidang pertanian, industri, lingkungan, pendidikan, teknik, sehingga nilai eksport mencapai 25%. Malaysia berasumsi baha pada lima tahun mendatang akan terjadi perubahan pendapatan sebesar 8%. Malaysia mempunyai pendapat tersendiri dalam bidang kesehatan, yaitu apabila ekonomi rakyat membaik maka akan berpengaruh terhadap lingkungan sanitasi dan kesadaran hidup sehat serta adanya perbaikan gizi rakyat. Dengan demikian, sehingga umur harapan hidup 70 tahun untuk pria dan 74 tahun untuk wanita akan tercapai. Pada 2000 angka kematian bayi di Malaysia mencapai 11 per 1000 kelahiran hidup, sedang tingkat kematian penurunannya mencapai 26,5%, yaitu 52,0 (1999) menjadi 23,5 (2000 ) per 1000 kelahiran hidup (Japan’s Oda, Annual Report 1999).

8. Pilipina
Dampak krisis ekonomi yang dialami Pilipina adalah lambannya tingkat pertumbuhan ekonomi (minus 0,1%). Ini terlihat pada nilai eksport Pilipina yang cukup rendah, yaitu 1%, sedang nilai import terdapat perubahan penurunan sejumlah minus 8% (tabel 2). Dalam menanggulangi ekonomi rakyat, Pilipina mendapatkan bantuan dari ADB sebesar $ US 851 juta, di samping mendapatkan bantuan dari Jepang, baik berupa uang maupun infrastruktur yang lain. Pilipina, di samping mengalami krisis ekonomi di tahun 1997, juga mengalami krisis politik seperti halnya Indonesia.

Menurut Japan’s ODA, Annual Report 1999, pada 1999 Jepang berusaha meningkatkan ekonomi rakyat Pilipina dengan melakukan perbaikan sebagai berikut: mengubah manajemen makro ekonomi; berkonsentrasi pada ekonomi infrastruktur; berkonsentrasi pada energi dan transportasi; mengembangkan bidang pertanian; meningkatkan manajemen lingkungan; serta meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia.

Pada 2000 pertumbuhan ekonomi rakyat Pilipina mulai menunjukkan perubahan, yaitu pendapatan perkapita mencapai $ US 3.500. Perubahan perilaku dalam bidang ekonomi berpengaruh terhadap perubahan kependudukan. Penduduk Pilipina bertambah mencapai 11,9%. Sedang umur harapan hidup untuk rakyat Pilipina sebesar 66 tahun untuk pria dan 70 tahun untuk wanita. Angka kematian bayi masih mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup.

9. Vietnam
Vietnam berpenduduk 75 juta jiwa dengan pendapatan perkapita sangat rendah. Pemerintah Vietnam bersikukuh meningkatkan ekonomi rakyat, yang salah satunya dengan memanfaatkan pinjaman dari Jepang (1998), dengan memprioritaskan: meningkatkan dan membangun sumber daya manusia, mengembangkan bidang pertanian; mengembangkan bidang pendidikan dan pelayanan kesehatan; serta perbaikan lingkungan.

Menurut Japan’s ODA, Annual Report tahun 1999, pertumbuhan GDP Vietnam dari 1997 ke 1998 mengalami penurunan sebesar 0,5 %. Menurut Japan’s ODA, Annual Report 1999, dalam 5 tahun mendatang rencana Vietnam dalam perbaikan sosial ekonomi antara lain:

Dalam bidang kesehatan, tingkat kematian bayi pada 2000 menunjukkan 38 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan tingkat kelahiran terjadi kenaikan dari 22,6 (1999) menjadi 25,8 (2000) per 1000 kelahiran hidup. Adapun umur harapan hidup untuk pria adalah 65 tahun dan 70 tahun untuk wanita.Untuk mencapai hal tersebut, diusahakan melalui program pemeliharaan dan peningkatan fasilitas kesehatan dan peralatannya serta memerangi penyakit AIDS.

10. Singapura
Jumlah penduduk Singapura yang tercatat pada 2000 sebesar 3.257 juta jiwa dengan GDP perkapita sebesar $ US 28.235. Ini merupakan jumlah yang paling besar di antara negara–negara ASEAN lainnya. Kondisi krisis ekonomi yang dialami negara–negara tetangga tidak banyak berpengaruh di Singapura. Ini terlihat pada periode Januari 1998 sampai April 1999 Singapura masih mampu mengeksport produknya ke Amerika sebesar $ US 5 juta.

Dalam bidang kesehatan, penduduk Singapura mempunyai perhatian tersendiri. Terlihat bahwa pada 1989 Singapura sudah menyisihkan 3% dari GDP untuk digunakan pada program–program kesehatan. Penurunan angka kematian bayi mencapai 11%, yaitu sejak 1995 sampai dengan 1999 angka kematian bayi rata-rata sebesar 5 per seribu kelahiran hidup. Angka ini menunjukkan bahwa program–program immunisasi, perbaikan gizi, sanitasi lingkungan, penyakit yang disebabkan diare, serta infeksi saluran pernafasan sudah berjalan dengan baik. Hal ini juga terlihat pada umur harapan hidup penduduk Singapura, yaitu 75 tahun untuk pria dan 80 tahun untuk wanita. Begitu pula dalam bidang teknologi kesehatan . Singapura lebih menonjol dibanding negara ASEAN lainnya, sehingga dalam bidang ini Singapura sudah merupakan komoditi bidang jasa kesehatan yang dapat diandalkan. Negara–negara tetangga yang menggunakan jasa kesehatan Singapura antara lain Malaysia dan Indonesia, baik berupa jasa kesehatan maupun jasa sumber daya manusia dalam bidang kesehatan (1991 SMA Lecture, Singapore and the Provision of Medical Services for the Region).

Implikasi

International Monetary Fund (IMF)–World Economic Outlook berpendapat bahwa krisis digolongkan menjadi beberapa jenis, antara lain: Currency crisis, Banking crisis, Sistemic Financial Crisis, dan Foreign Debt Crisis. Timbulnya krisis tampaknya menggambarkan bahwa pada dasarnya krisis merupakan akibat dari gejolak finansial atau ekonomi dalam perekonomian yang rawan. Kerawanan perekonomian bisa terjadi karena unsur–unsur yang pada dasarnya bersifat internal, seperti kebijakan makro yang tidak mendukung, lemah atau hilangnya kepercayaan terhadap mata uang dan lembaga keuangan, serta ketidakstabilan politik atau yang berasal dari faktor eksternal, seperti kondisi keuangan global yang berubah, misalignment dari nilai tukar mata uang dunia (dollar dengan Yen), atau perubahan cepat dari sentimen pasar yang meluas karena hard instinc dari pelaku dunia usaha.

Menurut Paul A. Samuelson & William O. Nordhgus, pada 1992 pandangan mengenai sebab timbulnya krisis dapat digolongkan menjadi dua kelompok:

  1. Pendapat dari Paul Krugman yang menyatakan bahwa sebab utama adalah masalah internal ekonomi nasional, terutama lemahnya lembaga keuangan

  2. Pndapat Jeffrey Sachs yang menyatakan bahwa krisis ini timbul dari perubahan sentimen pasar, masalah eksternal yang diperkuat dengan contagion effect.

Seperti halnya di negara-negara ASEAN, krisis ekonomi dimulai dari nilai tukar Bath Thailand (2 Juli 1997) yang diikuti dengan Peso Philiphina (11 Juli 1997) terhadap dollar. Selain itu, juga adanya intervensi dalam pasar valas yang diikuti usaha mempertahankan kurs dengan pengetatan likuidasi melalui kebijakan moneter dan fiskal dengan berbagai bentuknya (penundaan pengeluaran anggaran, peningkatan suku bunga, dsb). Akibat krisis ekonomi yang dialami negara-negara ASEAN ini menggambarkan kegagalan dalam menciptakan Health for all. Deklarasi Alma Ata (1978) menyebutkan wa Health For All ternyata tidak dapat diwujudkan, sehingga kesenjangan semakin lebar dan biaya menjadi sangat tinggi. Adapun krisis yang berlangsung terlalu lama akan mengakibatkan kematian atau derecovery. Jadi, krisis merupakan keadaan yang temporer.

Kesimpulan
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa:

Daftar Pustaka

  1. Koesrianti, Lina Hastuti, Efek Ketentuan AFTA bagi Perekonomian Nasional Indonesia dikaitkan dengan sistem GATT/ WTO , Jurnal Penelitian Dinamika Sosial Vol 1 th.2000
  2. Lokakarya Nasional tanggal 15-17 Juli 1998, Kuta Bali, Dampak Krisis Ekonomi terhadap Kesehatan Masyarakat Rentan
  3. Samuelson Paul A. William D Nordhaus, Mikro Ekonomi Edisi 14 tahun 1992
  4. Sukartini, Ni Made, Mienati Somnya Lasmana, Analis Pengaruh Fondamental Ekonomi pada Nilai Tukar Rupiah terhadap US Dollar, Tinjauam pada masa Krisis Ekonomi, Jurnal Penelitian Dinamika Sosial Vol.1 tahun 2000
  5. Sukirno Sadono, Pengantar Teori Ekonomi Makro.
  6. http:/www.google.com / CIA – The World Fact Book – Laos, Introduction Geography People Government Economy Communication Transpor-tation Millitary Transnational Issues, 1999.
  7. http:/www.google.com /Home Webboard Feedback Content,Situation, 1999
  8. http:/www.google.com / Japan’s ODA in Laos, Annual Report 1999
  9. http:/www.google.com / Japan’s ODA in The Phillipnes, Annual Report 1999
  10. http:/www.google.com / Situation and Trends of Factors Determining Health, Chap-ter 3
  11. http:/www.google.com / SMA Lecture, Singapore and the Provision of Medical Ser-vices for the Region Global Road warrior, Country Fact ,1991
  12. http:/www.google.com / US-ASEAN Business Report, Third Quarter 1999 Vol.10, No.3
  13. http:/www.google.com / US-ASEAN Business Report, Second Quarter 2000 Vol.11, No.2 top
  14. http:/www.google.com / World Health Organixation ( WHO ), Comparation With Other Countries, Chapter VI
  15. http:/www.google.com / World Population 1999-2000, United Nation Population Division Department of Economic and Social Affairs