[an error occurred while processing this directive]

Maksum Zuber S., Ketua Umum Barisan Muda NU
"Kehadiran Peres Ditentang Tetapi Kita tidak Pernah Menentang Konsep dari Yahudi"

Barisan Muda Nahdlatul Ulama (BMNU) membuat kejutan. Tiba-tiba saja mereka mengumumkan telah mengundang Menlu dan bekas Perdana Menteri Israel, Shimon Peres, untuk datang ke Indonesia. Peres menyatakan sudah bersedia menjadi pembicara seminar bertema "Grand Design NU, Antara Kultural dan Kepentingan Global" yang berlangsung 22 April.

Ketua Umum BMNU, Maksum Zuber S, mengaku telah mendapat dukungan dari Abdurrahman Wahid, bekas Ketua Umum PB NU yang juga anggota Yayasan Perdamaian Shimon Peres. Maksum juga sudah siap dengan reaksi negatif dari masyarakat.

Kepada Faisal dari Tempo News Room, di Gedung PBNU, Jum'at (29/3) sore, Maksum mengatakan ia kedatangan Peres bisa mengubah pandangan dunia bahwa Indonesia sarang terorisme. Ia juga menyatakan sangat aneh jika orang Yahudi dilarang masuk sementara konsepnya, misalnya IMF, digunakan di Indonesia. Berikut wawancaranya:


Apa alasan Anda mengundang Shimon Peres?
Kita menganggap bahwa istilah yang sementara berkembang di Indonesia Yahudi adalah musuh Islam. Namun kita belum tahu apa yang dinamakan Yahudi, bentuknya kayak apa, prinsip hidupnya kayak apa, itu juga kita tidak tahu.
Yang muncul adalah penolakan ketika orang disebut Yahudi. Kita berharap, kalau kita tidak mau terhadap Yahudi, tidak mau apanya. Kalau antar manusia nggak boleh saling memusuhi. Barangkali Al-Quran hanya mengajarkan konsep dan perilaku atau bentuk-bentuk gerakan Yahudi yang banyak menyakitkan umat Islam dan tidak pernah rela Islam selalu menang.

Apa sisi positifnya?

Saya pikir kita akan menjawab kesan sementara banyak orang bahwa di Indonesia itu sarang teroris. Selain itu, kita ingin tunjukkan bahwa Indonesia itu sarang perdamaian.
Kehadiran Shimon Peres diharapkan bisa memberikan dampak positif terhadap wacana di luar negeri yang tidak seimbang, tidak akurat terhadap posisi Indonesia di luar negeri. Kita berharap Shimon Peres, yang merupakan pendiri yayasan perdamaian datang, ke Indonesia sehingga kita bisa tahu apa konsep perdamaian versi Yahudi, sehingga dapat dipahami semua orang, baik dunia maupun Indonesia sendiri.
Terakhir, kehadiran Shimon Peres akan berdampak positif terhadap perekonomian dunia dan Indonesia. Ini juga bisa memangkas konsultan keuangan, sehingga investor bisa langsung masuk ke Indonesia, daripada kita menggunakan dana Yahudi dari luar negeri yang dikendalikan orang asing, dipotong sana-sini, sehingga yang turun ke Indonesia kecil.

Kalau sisi negatifnya apa?

Pertama, menurut Al-Quran, Yahudi tidak pernah rela Islam itu menang sehingga setiap gerak-gerik yang menamakan Yahudi selalu membangkitkan emosional yang luar biasa di kalangan umat Islam.
Sayangnya itu tidak diimbangi oleh satu pemahaman yang lebih luas terhadap informasi yang selama ini berkembang. Selain itu, kita akan berhadapan dengan kelompok-kelompok yang kurang memahami Islam yang kaffah (menyeluruh). Kalau memang Islamnya kaffah, dia akan betul-betul bisa memahami bagaimana dia meletakkan diri sebagai orang Islam yang kaffah dan bisa menghormati orang lain. Saya berharap ormas yang memakai label Islam dan partai politik yang menggunakan Islam, sejak awal semuanya Islami.

Bagaiman jika ada penolakan dari kelompok Islam radikal?

Reaksi itu adalah wajar dan saya tidak punya pikiran jelek terhadap surat penolakan dari Front Pembela Islam, KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Islam). Dari kelompok tua NU pun masih ada pemahaman seperti itu, saya menghormati semuanya itu.
Saya tidak akan mempersoalkan, [nanti saat Peres datang] mereka menunjukkan emosional dengan berdemonstrasi, selagi tidak menunjukkan kekerasan. Jika datang dengan kekerasan, justru orang bertanya, ini yang mana yang bisa menjalankan simbol keislaman itu yang mana. Saya pikir tokoh Islam yang sudah menisbatkan diri kepada perjuangan Islam menambah pengetahuan agar tidak main hantam kromo.

Artinya tetap terus walaupun mendapat tentangan dari kelompok Islam radikal maupun NU sendiri?

Kita tetap berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah kita tentukan. Kita berharap yang bisa menghentikan ini hanya Allah, karena yang tahu kebenaran yang hakiki hanya Allah. Kalau Allah sudah memberikan petunjuk, itu akan terus. Ini bukan persoalan kita ada tekanan dan sebagainya.

Terus siapa saja yang sudah mendukung?

Saya pikir, kalau yang mendukung hanya personal.

Siapa saja?

Sementara ini banyak dukungan moral tapi tidak secara fisik atau ikut di dalam merancang ini semua. Dukungan moral banyak, dari NU tua ada, kiai-kiai ada. Saya nggak bisa nyebutkan, takut ada ini…

Jika dikaitkan dengan konflik Palestina-Israel, apakah kedatangan Shimon Peres tidak akan menyakiti perasaan umat Islam Indonesia?

Itu adalah sebagian pandangan dari masyarakat Islam di Indonesia, dari segi bagaimana Israel tidak mau melepaskan pendudukannya terhadap Israel. Menurut saya, sama halnya ketika kita menduduki Timor Timur. Hanya bedanya, disana orang Yahudi menindas penduduk Palestina yang mayoritas Islam. Indonesia hampir samalah.

Bagaiman pandangan BMNU terhadap konflik Palestina-Israel?

Pertama, justru kehadiran Shimon Peres akan kita pertanyakan, sehingga umat Islam Indonesia tidak memandang sepihak. Sehingga umat Islam Indonesia juga bisa melakukan refleksi terhadap apa yang dilakukan negara Indonesia sendiri, ketika dengan Timtim. Misalkan kenapa Indonesia masuk ke Timtim, kenapa Israel-Palestina sampai begini. Sehingga kita tahu konflik Palestina seperti apa sebenarnya. Kemudian motto Israel dengan Yahudinya kayak apa, sehingga Israel enggan keluar dari wilayah Palestina.
Ketiga, kita ingin tahu bentuk-bentuk gerakan Yahudi itu kayak apa. Apakah semua itu dianggap bertentangan dengan HAM atau bertentangan dengan Islam. Kita berharap dari pihak Peres bisa memberika data yang kita tanyakan.

Apakah Anda setuju jika Yerusalem Timur menjadi ibukota Palestina?

Kita berharap Israel mau memberikan itu kepada Palestina, tentu setelah saling menguntungkan, saling meletakkan dimensi perdamaian. Kita berharap akan segera diwujudkan oleh Israel. Kalau bisa diwujudkan, maka kesan utama di Indonesia akan berubah apa sebenarnya Israel dan Yahudi itu.

Bagaimana Kalau Israel tidak setuju?

Kita perlu tekankan kepada Israel, kita tidak ingin ada semacam pengandaian dia (Israel) tidak memberikan. Kita berharap bahwa Israel memberikan hak yang bukan haknya. Apa yang diinginkan Palestina dan itu memang benar menjadi haknya.

Berarti seluruh wilayah Israel yang sekarang?

Kalau Israel memberikan seluruhnya, dia harus punya wilayah otonomi tapi bagian dari Israel. Tapi bisa juga muncul Israel dan Palestina itu berubah nama, yang dua-duanya bisa sepakat semacam "Isratina" [gabungan kata Israel dan Palestina]. Kalau itu harus ditempuh, saya pikir akan lebih moderat dan melebur menjadi satu. Saya pikir kalau sudah begitu, tidak akan ada lagi kesan Yahudi bagian dari musuh islam.

Bagaimana dengan posisi Shimon Peres dalam konflik Palestina-Israel?

Kebetulan saat ini dia menlu. Sebagai ketua Yayasan Perdamaian, kayaknya dia lebih cenderung membaca kepentingan yang paling luas terhadap Israel itu sendiri. Sementara ini, dia tidak terlalu masuk dalam memposisikan konflik yang ada, karena dia sebagai menlu. Tapi kemungkinan dia hadir di Indonesia untuk menyampaikan duduk persoalan yang akut.

Berarti dari sudut pandang Israel?

Bisa. Tetapi umat Islam punya hak untuk mempertanyakan kepada Palestina. Saya berharap ketika dia menyampaikan itu di Indonesia, dia menyampaikannya sebagai tokoh perdamaian, tidak memihak dan dia akan berpikir lebih kepada kepentingan negara Israel dan Palestina.

Menurut Anda bagaimana sikap NU terhadap konflik Palestina-Israel?

Sampai saat ini, sejak dulu PBNU sepertinya masih condong kepada Palestina, tapi itu masih pada konteks karena mayoritas umat Islam. Setelah perkembangannya, sampai detik ini PBNU belum memberikan pernyataan apapun tentang konflik itu.

Apakah Gus Dur setuju mengundang Shimon Peres datang ke Indonesia?

Gus Dur itu tidak pernah menolak siapapun yang datang ke Indonesia ketika dialog. Dia tidak pernah melihat itu siapa, kecuali setan. Selagi berbentuk manusia yang diundang siapapun, boleh. Jadi tidak mempersoalkan darimana datangnya.

Apa yang Gus Dur sampaikan terhadap pihak panitia?

Ketika kita bertemu [di PBNU pada tanggal 28 Maret 2002], pada intinya dia tidak bisa memberikan dukungan apa-apa. Kecuali menyatakan secara moral dan etika niat baik itu dia bisa menerima.

Jadi mengundang Peres bukan atas inisiatif Gus Dur?

Oh tidak, sama sekali tidak ada.

Apakah Gus Dur dan yang lainnya setuju jadi pembicara?

Ya.

Bagaimana pihak BMNU bisa muncul ide mengundang Peres?

BMNU melihat dari sisi negara, Ketika kita diskusi tentang keinginan Indonesia ke depan, lalu lahir sebuah ide tentang rekonsiliasi nasional. Itu harus dipahami bagaimana kita hidup berdampingan secara damai dan rukun. Kita, di Indonesia, butuh itu.
Dengan adanya konflik di Indonesia yang tidak pernah selesai, ditambah lagi tuduhan terhadap Indonesia, kita lalu terbersit siapa tokoh dunia yang mendambakan damai. Akhirnya muncul Shimon Peres, karena konsep yang ada di yayasan pimpinan Peres betul-betul damai.
Menurut Gus Dur, pengurus yayasan terdiri dari eksponen-eksponen yang mendambakan dunia itu damai. Saya nggak habis pikir, kalau seandainya kehadiran Peres di Indonesia ditentang begitu saja tetapi kita tidak pernah menentang konsep dari Yahudi.

Konsep semacam apa?

Misalnya IMF dan banyak lainnya.

Siapa yang pertama kali mengungkapkannya?

Nur Hamid Ketang [Ketua Panitia acara ini] sekitar bulan Januari lalu.

Bagaimana cara menyampaikan undangannya?

Pertama, Hamid mengontak Kedubes Israel di Singapura kemudian dilanjutkan dengan kontak telepon. Ternyata itu mendapat respon, dari situlah kemudian berlanjut.'
[Dalam harian the Straits Times, edisi Kamis (28/3), dilaporkan berdasarkan sumber anonim bahwa undangan kepada Peres ini digerakkan oleh Abdurrahman Wahid. Ia disebut percaya bahwa Peres tidak mungkin datang dan langkah ini untuk mempermalukan pemerintahan Megawati sekaligus mempermalukan Hasyim Muzadi, ketua umum PB NU]

Bagaimana komentar Anda terhadap pemberitaan di the Straits Times?

Menurut saya, kalau semuanya tidak benar, mungkin benarnya masih 0,1 persen. Pada saat BMNU mengundang Shimon Peres ke Indonesia, Gus Dur enggak tahu, enggak pernah terlibat.
Sebenarnya Gus Dur juga bukan sebagai keynote speaker, tapi justru Profesor Nakamura dari Jepang yang ditunjuk karena dia peneliti soal NU. Namun karena faktor waktu, kita undang Gus Dur.
[Dalam acara itu, selain Peres dan Wahid, juga dijadwalkan beberapa tokoh untuk berbicara termasuk Jalaludin Rahmat, Hasyim Muzadi, hingga Alwi Shihab]
Alasannya, kenapa bukan Gus Dur yang pertama kali diundang, karena kita tidak ingin acara silaturahmi nasional ini mengandung makna politis tapi hanya satu yang diinginkan, adalah menggalang solidaritas di kalangan anak muda NU.
Kedua, menggagas dan menggerakkan tentang bagaiman Indonesia ke depan tidak direcoki dengan berbagai gejolak.

Acaranya pastinya tanggal berapa?

Tanggal 22 April.

Di mana tempatnya?

Kemungkinan ada tiga alternatif. Di Ponpes Al-Mahbubiyah pimpinan Kiai Haji Manarul Hidayah atau di Ponpes Asshiddiqiyyah pimpinan Kiai Haji Nur Muhammad Iskandar S.Q. Atau juga di Wisma haji Pondok Gede. ***

[an error occurred while processing this directive]