[an error occurred while processing this directive]

Nama:
IBNU SUTOWO
Tempat, Tgl lahir:
Grobogan, Jawa Tengah, 23 September 1914
Pendidikan:
· MULO (setingkat sekolah menengah) pada 1931
· Nederlandsc Indische Antsen School (NIAS) Surabaya
Nama isteri:
Zaleha binti Syafe’ie
Ibnu Sutowo

Ibnu Sutowo, lahir di Grobogan, Jawa Tengah, 23 September 1914. Selesai MULO (setingkat sekolah menengah) pada 1931, Ibnu melanjutkan sekolah dokter di Nederlandsc Indische Antsen School (NIAS) Surabaya. Selanjutnya, pada 1940, usai menempuh pendidikan di situ, ia ditugaskan sebagai dokter di Kantor Pemberantasan Malaria di Palembang.

Di propinsi itu pula, tepatnya ketika bertugas di Martapura, Sumatera Selatan, ia menemukan jodohnya: Zaleha binti Syafe’ie, yang dinikahinya pada 12 September 1943. Dari pernikahan itu, Ibnu dikaruniai tujuh orang anak, masing-masing Nuraini Zaitun Kamarukmi Luntungan, Endang Utari Mokodompit, Widarti, Pontjo Nugroho Susilo, Sri Hartati Wahyuningsih, Handara, dan Adiguna.

Pada 1945 Ibnu diangkat menjadi kepala Rumah Sakit Umum Palembang. Selanjutnya, Ibnu ditunjuk sebagai Kepala Jawatan Kesehatan Tentara Se-Sumatera Selatan dan diberi pangkat Mayor. Semenjak itu Ibnu memulai karirnya di dunia militer, sebuah dunia baru baginya. Dan ia mengaku tidak punya pengetahuan mengenai pekerjaan staf militer.

Karir Ibnu di militer terus meningkat. Tahun 1946 Ibnu ditugaskan di Medan sebagai Kepala Jawatan Teritorium Sumatera Utara. Setelahnya, Ibnu kembali ditugaskan di Palembang untuk menjabat posisi Panglima Teritorium II Sriwijaya. Pangkat terakhir Ibnu Sutowo di dunia militer adalah Letnan Jenderal.

Karir Ibnu di dunia perminyakan dimulai 22 Juli 1956. Ia ditunjuk oleh AH Nasution yang saat itu menjabat sebagai KSAD untuk mengelola Tambang Minyak Sumatera Utara (TMSU), Pangkalan Brandan. Ia ditugaskan membenahi tambang minyak tersebut. Tentu, Nasution punya alasan sendiri menunjuk Ibnu. "Ibnu Sutowo terkenal sebagai kolonel cowboy dalam menerobos urusan-urusan yang kusut, dengan kata kini seorang trouble shooter," kata AH Nasution dalam buku Ibnu Sutowo tulisan Mara Karma.

Rupanya, tugas di perminyakan itu membawanya menjadi orang nomor satu di Pertamina. Selama delapan tahun memimpin pertamina, ia membuat beberapa terobosan, antara lain memperkenalkan apa yang disebut sebagai sistem bagi hasil. Ia juga membuat kontrak pertama penjualan LNG Arun kepada pihak Jepang pada tahun 1973. Pertamina juga meluaskan jaringan usahanya dengan mendirikan berbagai hotel berbintang di wilayah tanah air.

Namun, Ibnu Sutowo bukan nama bersih di Pertamina. Ia lengser dari pucuk pimpinan Pertamina pada 1976 -- dan digantikan oleh Piet Harjono -- karena diduga melakukan korupsi. Kasus itu sempat berbulan-bulan menghiasi halaman media cetak tanah air. Soeharto selaku Presiden ketika itu membentuk Komisi IV yang diketuai Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Wilopo SH dibantu Prof Johannes, IJ Kasimo, dan H Anwar Tjokroaminoto. Mantan Wakil Presiden Dr Moh Hatta ditunjuk sebagai penasihat. Tetapi tim ini tidak berhasil membuktikan tindak korupsi yang dilakukan Ibnu Sutowo.

Pada tahun 1980-an baru ketahuan berapa kerugian yang dialami Pertamina. Utang yang melilit perusahaan itu nyaris mengguncang sendi perekonomian negara. Pemerintah pun akhirnya terpaksa menanggung beban utang yang disebut-sebut mencapai kisaran US$ 10 miliar. Kasusnya pun terkuak. Itu terjadi karena adanya perebutan harta kekayaan milik seorang direktur Pertamina, Achmad Thahir.

Pemerintah kembali bertindak dengan membentuk banyak tim. Di antaranya, tim Inventarisasi Utang yang diketuai Menteri Perdagangan Radius Prawiro. Ada pula tim yang bertugas merundingkan kembali semua kontrak antara Pertamina dengan para kontraktornya. Satu lagi, tim yang bertugas merundingkan kembali kontrak-kontrak Pertamina dengan pengusaha Bruce Rappaport di Swiss mengenai kapal tanker yang dipimpin oleh Radius Prawiro-Sumarlin.

Selain itu masih ada Tim Teknis Penertiban Pertamina yang ditunjuk langsung Presiden Soeharto. Tim ini beranggota Letjen Hasnan Habib yang saat itu menjabat Kepala Staf Pertahanan dan Keamanan, Piet Harjono, dan Menteri Sekretaris Kabinet (waktu itu) Ismail Saleh. Di luar tim tersebut, paling tidak, ada sembilan panitia yang dibentuk. Tugasnya adalah melakukan penyehatan kembali proyek-proyek Pertamina yang kontraknya sudah diteken Ibnu. Salah satunya, misalnya, Panitia Penyehatan Proyek Pabrik Pupuk Terapung tadi.

Lepas dari urusan Pertamina, Ibnu Sutowo kemudian terjun secara serius dalam bisnis perbankan di Bank Pasifik yang didirikannya pada 1958. Menurut pengakuan Ibnu, investasinya untuk bank itu dikumpulkan dari hasil berdagang, praktek dokter, dan gajinya sebagai pegawai. Bank Pasifik itu pun berkembang. Demikian pula perusahaannya yang lain, seperti Grup Nugra Santana.

Selain itu, lelaki yang hobi main golf ini pun terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Ibnu tercatat sebagai pendiri Yayasan Pendidikan Alquran yang berdiri tahun 1969. Setahun kemudian Ibnu membuka Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ). Tahun 1986, saat Musyawarah Nasional Palang Merah Indonesia (PMI) Ke-14, Ibnu Sutowo terpilih sebagai Ketua PMI. (Uly Siregar)

[an error occurred while processing this directive]