[an error occurred while processing this directive]

Nama :
Hj. Elza Syarief, SH
Tempat/Tgl Lahir :
Jakarta, 24 Juli 1957
Agama :
Islam
Suami :
Laksamana Muda (purn) H Yuswaji SIP MBA
Anak :
- Berlianti (25, sudah menikah)
- Lia Alizia SH (24)
- Mia Vinita (21)
- Intan (20)
- Fikri Ghanie (5)
Pendidikan :
Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta
Riwayat Pekerjaan :
(sebagai corporate lawyer)
PT Mandala Permai
PT Citra Nasional
PT Timor Motor
PT Timor Industri Complement
PT Mandala Citra Unggulan
PT Humpuss
Alamat :
Jl Kramat Sentiong 38A Jakarta Pusat

Hj. Elza Syarief, SH
Melejit Bersama Keluarga Cendana

Wajah Elza Syarief tak pernah lolos dari sorotan kamera televisi lokal maupun internasional. Pembawaannya tenang dan bicaranya pun tidak meledak-ledak. Popularitasnya merekah, mirip selebritis yang naik daun. Kehadirannya selalu menghiasi layar kaca setiap kali kasus Hutomo Mandala Putera alias Tommy Soeharto mencuat di publik. Namanya ikut berkibar sejak dipercaya untuk memegang kasus pribadi putera bungsu mantan Presiden Soeharto itu.

Kredibilitasnya sebagai pengacara yang sudah cukup lama ternyata mampu menderek gerbong kepercayaan keluarga Cendana. Bermula ketika perkenalannya dengan Bambang Trihatmodjo untuk memegang kasus tanah di salah satu perusahaannya. Satu peluang besar masuk lingkungan bisnis besar keluarga Cendana tak disia-siakannya. Ibarat gayung bersambut, keberhasilan memenangkan kasus itu telah mendongkrak kredibilitasnya di mata keluarga Cendana.

Tommy Soeharto ternyata juga melirik keberhasilannya. Secara pribadi, mantan Sekeretaris Dewan pimpinan DKI Jakarta, Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI), dipanggil secara pribadi oleh bos PT Humpus itu. Pada tahun 1996, ia diminta menjadi bagian dari corporate lawyer di beberapa perusahaan miliknya. Antara lain menangani kasus PT Mandala Permai, PT Citra Nasional, PT Timor Motor, PT Timor Industri Complement, PT Mandala Citra Unggulan dan PT Humpuss. Tak pelak dirinya memperoleh sertifikat corporate lawyer tahun 1998.

Padahal sebelumnya, selama perjalanan karirnya, nama Elza di keluarga Cendana memang tak pernah terdengar. Meski pernah pengacara Siti Hardiyanti Indra Rukmana alias Tutut, namanya baru benar-benar berkibar setelah Tommy Soeharto mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas tuduhan terlibat kasus tukar guling PT Goro Bathara Sakti-Bulog. Ia secara pribadi diminta Tommy untuk menjadi salah satu anggota penasihat hukumnya pada Mei dua tahun silam. Saat itulah mulai mendampingi Tommy bersama Nudirman Munir dan muncul di televisi.

Sebenarnya Elza masuk ke tim pembela Tommy belakangan. Semula, tim pembela anak kesayangan Pak Harto itu adalah Bob R.E. Nasution, B.E.D. Siregar, Erman Umar, L.M.M. Samosir, dan Nudirman Munir. Tapi, sejak Tommy "kabur" pada awal November 2000, para pengacara tersebut mengundurkan diri, kecuali Nudirman Munir. Sejak itulah Elza resmi bergabung di tim pembela Tommy. Selanjutnya, Elza mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK).

Kariernya sebagai pengacara diawali 16 tahun lalu, yaitu setelah wanita keturunan Minang itu lulus dari Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta. Karier sebagai lawyer dimulai dari bawah, dengan proses yang panjang dan berliku.

Elza tertarik untuk menerjuni dunia lawyer dilatari oleh sebuah momentum yang menurutnya sangat inspiratif dan menjadi kenangan. "Saya tertarik jadi lawyer, sejak saya menangani PHK satpam di Perumtel. Di situ keberhasilan saya membela mereka dengan rasa bahagia. Ternyata kalau kita hendak beramal itu bukan semata-mata pakai uang saja. Memberi bantuan hukum juga bisa menyenangkan orang lain yang dihimpit kesulitan. Sehingga saya lihat dari sisi kemanusian bermanfaat."

Sejak itu, ia memutuskan untuk tetap memilih jalur jadi pengacara. Awalnya ia sekadar ikut-ikutan dengan kantor pengacara lainnya. Pertama di Ikatan Warga Satya, yaitu kumpulan mantan CPM maupun POM AD. Kemudian ngumpul lagi di Kantor Pengacara Palmer Situmorang SH, lalu di Kantor Pengacara OC Kaligis SH. Saat itu di sana ia menjadi direktur pidana. Baru pada Februari 1991 ia buka kantor sendiri.

Menurut dia, jadi pengacara itu tidak gampang. Ia mencontohkan, yang ia rasakan berat adalah permintaan atau target yang terlalu tinggi dari seorang klien untuk memenangkan kasusnya. Karena betapapun sulitnya suatu perkara, kalau target yang dibebankan tidak terlalu tinggi, hal tersebut bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh namun dengan suasana santai.

Wanita berkacamata yang tinggal di Jl Kramat Sentiong 38A Jakarta Pusat ini juga mengaku tidak menargetkan masalah uang sebagai segalanya. "Karena saya punya kewajiban moral untuk membantu orang-orang yang memang tidak punya," ujarnya. Karena itu, ia juga menjadi Ketua Advokasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. "Hidup itu kan harus balanced, misalnya mengambil suatu dana untuk disalurkan kepada yang berhak. Seperti khususnya pekerja yang menjadi korban PHK massal, perlu saya bantu secara cuma-cuma," ulasnya lagi. (E. Karel Dewanto/Budi P/berbagai sumber)

[an error occurred while processing this directive]