[an error occurred while processing this directive]
Tiga Jam Untuk Menyusun Jawaban Gus Dur
21-7-2000 / 21:15 WIB
Setelah melalui rapat yang melelahkan selama lebih kurang 3 jam, akhirnya jawaban Presiden terhadap ke-23 pertanyaan anggota Dewan saat interpelasi kemarin (20/7) selesai juga. Jawaban itu kemudian dikirimkan tepat pukul 17.00 WIB ke DPR melalui salah seorang staf sekretaris negara. Hal ini ditegaskan Sekretaris Kabinet (Seskab), Marsillam Simanjuntak, usai bertemu dengan Presiden Abdurrahman Wahid, Jumat (21/7) sore di Istana Merdeka, Jakarta.
"Jawabannya sudah selesai dan dikirimkan tepat pukul 17.00 ke DPR. Bukan oleh saya, tapi kurir," katanya. Namun, ia enggan menjawab ketika ditanya isi dari laporan itu. Hanya diduga jawaban Presiden itu disertai dengan bukti dugaan KKN yang dituduhkan kepada mantan Menteri Negara Investasi dan Pembinaan BUMN, Laksamana Sukardi, dan mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Jusuf Kalla. "Tebalnya saya tidak hapal, tapi memang disertai dengan surat-surat," katanya tanpa merinci apakah surat-surat itu adalah bukti-bukti KKN. Sementara itu, Sekretaris Negara, Djohan Effendi, ketika dimintai keterangannya soal jawaban Gus Dur itu menjawab,"Nggak tahu." Ia pun enggan menceritakan kronologis pembuatan jawaban itu. "Saya benar-benar tidak tahu," katanya mengelak.
Namun, rapat itu diketahui berlangsung tepat pukul 14.00 WIB siang tadi di gedung I Seskab, di ruang kerja Marsillam. Selain Marsillam, rapat itu juga dihadiri Menteri Luar Negeri (Menlu) Alwi Shihab, Jaksa Agung Marzuki Darusman, Sekretaris Negara (Sekneg) Djohan Effendi dan Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben), Susilo Bambang Yudhoyono. Dua jam kemudian, ke-5 menteri itu segera meluncur ke Istana Merdeka untuk menemui Gus Dur. Setelah itu, satu jam kemudian, ke-5 menteri ke luar ruangan. Namun Marzuki langsung menghindar lewat pintu samping, sedangkan Alwi langsung terbirit-birit menuju mobilnya. "Tanya Pak Bambang saja. Tanya Pak Bambang," katanya sambil terburu-buru menuju mobilnya. Begitu juga dengan Djohan yang selalu mengelak dan menjawab tidak tahu.
Sementara itu, Susilo mengelak sinyalemen yang mengatakan ia ikut terlibat dalam pembuatan naskah jawaban itu. "Saya bertemu dengan Presiden untuk urusan lain, soal kunjungan saya ke Malaysia untuk bertemu dengan PM Mahathir Mohammad. Kita akan belajar kepada Malaysia, karena kabarnya Malaysia akan berinvestasi ke Indonesia. Kalau soal jawaban interpelasi, itu bukan urusan saya," ujarnya mengelak. Hanya Marsilam yang bersedia seperti keterangan di atas. Selebihnya ia enggan berkomentar terutama tentang siapa yang menyusun jawaban tersebut. "Yang jelas staf dan pembantu Presiden," ujarnya.
Menurut sumber TEMPO Interaktif, salah seorang pejabat Sekneg, DPR memang memperpanjang tenggat waktu pemberian jawaban itu. Dari semula pukul 12.00 menjadi pukul 17.00. Sebelumnya, sekitar pukul 09.30, Marsillam sempat menelepon Ketua DPR, Akbar Tandjung, meminta mengundurkan tenggat waktu pemberian jawaban. Akbar pun mengundurkan sampai pukul 17.00. Ia juga menjelaskan usai rapat kemarin, sekitar pukul 14.00, Presiden langsung memerintahkan Marsillam untuk membentuk tim pembuat jawaban. Presiden memenita agar Marzuki Darusman juga dilibatkan untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan hukum. Namun, ketika ditanyakan jumlah persis tim penyusun jawaban itu, ia mengatakan,"Saya tidak tahu jumlah pastinya." (Oman Sukmana)
Berita Lainnya: