[an error occurred while processing this directive] Arbi Sanit:
Gus Dur Tantang DPR Bersikap Jujur dan Rasional
20-7-2000 / 20:43 WIB

Pengamat politik Arbi Sanit menilai jawaban Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terhadap hak interpelasi DPR bukan sekedar untuk membela diri. Tapi tantangan untuk sama-sama bersikap jujur dan rasional. "Itu berarti DPR sendiri dituntut kejujurannya. DPR juga berbohong. Orang janji isi pertemuan itu tidak akan dibocorkan, malah dibocorkan," kata Arbi saat dihubungi TEMPO Interaktif, di Jakarta, Kamis (20/7) sore.

Arbi mengaku, sebelumnya ia sudah menduga, Gus Dur tidak akan menjawab pertanyaan Dewan sebelum ada yang bertanggungjawab membocorkan pertemuan tertutup yang dirahasiakan itu. Selain itu, ia juga menilai Gus Dur cukup jeli dalam mempersoalkan hal yang bersifat prinsip. Misalnya, ketika Gus Dur menginginkan adanya hubungan yang lebih rasional antara eksekutif dan legislatif sesuai dengan kaidah sistem pemerintahan presidensil.

Lebih lanjut, Arbi berargumen, tata tertib DPR sendiri memang tidak pas dengan sistem presidensil. Hak interpelasi, misalnya, merupakan kebiasaan sistem parlementer. Sebab, interpelasi memiliki dua fungsi: mendapat informasi dari eksekutif dan menghukumnya jika informasi yang diberikan salah. Padahal, di dalam sistem presidensil, DPR hanya bisa mengontrol ekskutif, tanpa bisa menghukum. "Gus Dur meminta agar hubungan itu diubah. Jadi, ada satu gagasan untuk pembaharuan," tambahnya.

Di sisi lain, Arbi menilai, alasan yang dikemukakan Gus Dur memang terkesan legal formal. Tapi, alasan itu sebenarnya tidak salah. Sebab, yang dipersoalkan, toh, soal prosedural, bukan substansi. "Bagaimana Presiden memecat menteri dan apa alasannya, itu kan prosedural," katanya. Sedangkan, menanggapi tuduhan sejumlah anggota DPR bahwa Gus Dur telah berbohong kepada publik, Arbi berpendapat, para politisi umumnya lebih suka berbohong. "Dalam Pemilu, janji-janji politisi umumnya bohong. Makanya Gus Dur tenang-tenang saja, sama-sama bohong kok," selorohnya.

Arbi juga menyoroti penampilan para peserta sidang. Ia memuji anggota DPR dan Presiden yang dinilainya lebih dewasa dan menunjukkan kerja sama. "Mereka lebih mampu menahan diri dan saling menghormati," ujarnya memuji. "Sidang pun tampak lebih tenang, tidak grasa-grusu dan tidak menggambarkan konflik. Itu akan positif untuk pasar," lanjutnya. Dan melihat hal ini, ia yakin, posisi Gus Dur aman dalam sidang tahunan Agustus depan. "Bisa dikatakan bahwa keamanan posisi Gus Dur semakin riil dan semakin besar," katanya.

Meski besar kemungkinan masih ada kelompok-kelompok yang tidak puas, mereka tidak akan membawa dampak yang berarti. Toh, sejumlah tokoh penting, seperti Amien Rais, Akbar Tandjung dan Megawati, cenderung menghindari impeachment. Kecenderungan ini, katanya lagi, juga ditunjukkan fraksi-fraksi MPR. "DPR memang masih punya peluang untuk menggiring Gus Dur ke arah itu. Tapi rasanya tidak mungkin. Soalnya, siapa pun yang mulai ribut, ia harus bertanggungjawab terhadap gonjang-ganjingnya nilai rupiah," kata Arbi yakin. (Jajang Jamaludin)


Lihat Komentar | Kirim Komentar

Berita Lainnya:

  • Interpelasi Ngaso Dulu (24-7-2000 / 20:26)
  • Maaf Gus Dur Melegakan (24-7-2000 / 20:24)
  • Dewan Sampaikan Pernyataan Bersama (24-7-2000 / 15:53)
  • Golkar Terima Permintaan Maaf Gus Dur (24-7-2000 / 14:09)
  • PBB dan Reformasi Tuntut Penjelasan Terbuka (24-7-2000 / 13:51)
  • Penjelasan Gus Dur Sebaiknya Terbuka (24-7-2000 / 11:21)
  • Jawaban Gus Dur Diterima PDI-P dengan Syarat (24-7-2000 / 11:12)
  • Ekky Anggap Soal Selesai (22-7-2000 / 13:35)
  • Inilah Pertanyaan Anggota Dewan (22-7-2000 / 10:00)
  • Tiga Jam Untuk Menyusun Jawaban Gus Dur (21-7-2000 / 17:35)
  • Gus Dur Minta Maaf (21-7-2000 / 17:35)
  • Dewan Tunggu Sampai Malam (21-7-2000 / 17:35)
  • Akbar Bantah Beri Pernyataan (21-7-2000 / 17:29)
  • Teks Jawaban Presiden Kepada DPR (21-7-2000 / 17:29)
  • Sebaiknya Mega Pegang Kendali (21-7-2000 / 16:43)
  • "Saya Tak Bisa Diturunkan" (21-7-2000 / 14:43)
  • Berita Foto (20-7-2000 / 20:43)
  • Gus Dur Tantang DPR Bersikap Jujur dan Rasional (20-7-2000 / 20:43)
  • Tak Puas, DPR Akan Ajukan Memorandum (20-7-2000 / 20:27)
  • Gus, Lihatlah "Tiga Gajah" di DPR (20-7-2000 / 20:21)
  • Hak Interpelasi Tak Bisa Dinafikan (20-7-2000 / 18:36)
  • Akbar Hormati Gus Dur (20-7-2000 / 16:01)
  • "Gus Dur Bikin Masalah Baru" (20-7-2000 / 15:51)
  • Marsilam dan Johan Mengelak (20-7-2000 / 15:48)
  • "Interpelasi Tak Bertentangan UUD 45" (20-7-2000 / 14:07)
  • "Saya Divonis Gus Dur" (20-7-2000 / 13:21)
  • "Itu Bukan Salah Saya" (20-7-2000 / 12:46)
  • Cermin Konflik Elit Politik (20-7-2000 / 11:38)
  • Anggota DPR Tidak Puas atas Jawaban Presiden (20-7-2000 / 11:25)
  • Momen Penghormatan Antarlembaga (20-7-2000 / 10:46)
  • Interpelasi Sesuai Susduk No 4/1999 (20-7-2000 / 10:42)
  • Jakarta Tegang Hadapi Interpelasi (20-7-2000 / 10:35)
  • Perjalanan Sang Interpelasi (20-7-2000 / 10:29)
  • Perjalanan Sang Interpelasi (20-7-2000 / 10:29)
  • Jusuf Kalla Hanya Mengharapkan Kebenaran (19-7-2000 / 21:57)
  • Bukan Waktunya Gus Dur Melawak (19-7-2000 / 15:06) [an error occurred while processing this directive] [an error occurred while processing this directive] [an error occurred while processing this directive]