Profil
James Tjahaja Riady

Lobi Riady di Gedung Putih

MENDADAK James Riady, 42 tahun, menyita perhatian Amerika Serikat. Pengusaha ternama Indonesia itu disiarkan New York Times edisi 7 Oktober 1996 telah menyumbang sejumlah US$ 200 ribu untuk menyokong kampanye Presiden Bill Clinton dari Partai Demokrat pada tahun 1992.

Adalah wartawan William Safire yang mengungkapkan hubungan Riady-Clinton itu. Menurut Safire, setelah Clinton menghuni Gedung Putih, ada perbedaan sikap yang jelas dalam politik luar negeri AS terhadap Indonesia. Misalnya soal buruh di Timor Timur.

Di dalam negeri, Riady dipuja dan dicaci. Pemilik harian Media Indonesia yang juga seorang pengusaha, Surya Paloh, mengacungkan jempol atas lobi hebat Riady. Tapi, dari Kamar Dagang Indonesia terdengar kabar bahwa Riady seharusnya dijatuhi sanksi karena "memalukan" nama Republik dengan "kolusi" itu.

Siapa James Riady yang anak taipan Mochtar Riady ini?

Di sini, orang banyak mengenalnya sebagai bankir, sekaligus businessman. James Tjahaja Riady adalah generasi kedua yang disiapkan memimpin tampuk kekuasaan di kelompok Lippo -- grup yang kini meraksasa dan dibangun oleh Mochtar Riady. Bahkan dia sering disebut-sebut sebagai calon tunggal pewaris tahta bisnis ayahnya, Mochtar Riady, yang selama ini dikenal sebagai bankir bertangan dingin. Boleh jadi, itu karena langkah-langkah bisnis yang dibuat James. Dia memang cepat, dan inovatif.

Tenang dan murah senyum, James adalah duplikat bapaknya. Kedudukan sebagai Chief Executif Officer (CEO) Grup Lippo sungguh pantas untuknya. Kemampuannya berbisnis tampak dari beberapa lahan proyek yang digarap Lippo belakangan ini. Misalnya, ia bereksperimen dengan menerapkan jurus sukses di bisnis keungan pada bisnis properti "kota mandiri" Lippo Vilagge (Tangerang) dan Lippo Cikarang (Bekasi). Keduanya sukses menyedot jutaan penghuni. Konsepnya sangat sederhana dan belum pernah dilakukan developer manapun di negeri ini: pre-sale alias jual di depan. Dia juga punya kiat lain. "Yang kami jual bukan hanya rumah, lapangan golf, ataupun gedung perkantoran, tapi kepercayaan," katanya.

Tak berlebihan, bila dia disebut putra mahkota. Tanggapan James? "Ah, Anda ternyata ikut-ikutan salah juga. Tidak benar saya dipersiapkan sebagai pewaris Lippo," sangkalnya. Kata dia, kalau memandang Lippo hanya dari figur Mochtar dan James, berarti orang memandang Lippo dari luarnya saja. "You boleh bertanya sendiri, langsung kepada profesional di sini," ujarnya serius tentang kerja tim dan rapinya organisasi Lippo. Semua punya "bagian" dalam pengambilan keputusan bisnis Lippo.

Dia menunjuk Markus Parmadi dan Roy Tirtadji. "Mereka bukan pajangan. Tapi punya otoritas penuh, lainnya juga begitu," kata James. Jadi, ujarnya, yang terpenting bukan nantinya Lippo milik siapa, tetapi bagaimana terus mencapai dan menerapkan strategi yang tepat untuk melembagakan kelompok Lippo. Artinya, keluarga Mochtar Riady boleh saja mundur, tapi nama Grup Lippo harus tumbuh terus.

James mencontohkan, di Bank Lippo yang menjadi tulang punggung bisnis grupnya, kepemilikan saham keluarga Mochtar Riady sekarang sekitar 50 persen. Pada sepuluh tahun mendatang, katanya, kepemilikan keluarganya, mungkin tinggal 30 persen. Dan pada lima belas atau dua tahun mendatang, kepemilikan saham keluarga, mungkin tinggal 15 atau 10 persen saja. "Ini bukan lagi masalah kerelaan melepas saham mayoritas, tetapi strategi jangka panjang," ujar pemilik Bank Lippo yang punya aset Rp 7,6 trilyun ini.

Dia adalah anggota kehormatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Meskipun kini jaringan bisnis Lippo sudah merambah ke mancanegara -- Singapura, AS, Hongkong, Cook Island, Australia -- James mengaku tetap memiliki komitmen untuk membantu teman-temannya dalam wadah tersebut. "Dari dulu Lippo selalu memberi perhatian terhdap HIPMI, tentu saja, asalkan sesuai dengan prosedur yang berlaku," ujarnya.

Tak hanya berkiprah di dunia bisnis, dalam bidang sosial, dengan bendera Lippo, James melahirkan gagasan untuk mendirikan suatu pendidikan terpadu, bernama Sekolah Pelita Harapan (SPH). Cita-citanya, ia hendak mendirikan 10 sekolah untuk kalangan atas, 100 sekolah untuk kalangan menengah, dan 1000 sekolah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Saat ini telah berdiri di tiga tempat : Karawaci, Sentul, dan Cikarang. " Di SPH, 20 % muridnya adalah beasiswa dari daerah-daerah," ujar James.

Menurutnya SPH tidak berkait secara langsung dengan Grup Lippo. Dukungan yang diberikan, hanya berupa subsidi. Hanya, kebetulan pengurus yayasan, tergabung dalam Lippo. Bahkan, ia tidak setuju jika SPH membisniskan dunia pendidikan. "Proyek SPH, semata-mata keinginan pendirinya untuk mengembangkan visi sosial," ujarnya. Namun, James yang juga bendahara Yayasan Bhakti Medika Universitas Trisakti ini, tak menyangkal tentang biaya pendidikan yang tinggi. "Pelita Harapan bukan pendidikan termahal di Indonesia. Jakarta Intenational School (JIS) jauh lebih mahal," tuturnya.

Dari pernikahannya dengan Aileen Hambali pada 1982, James dikaruniai dua putra dan dua putri. Tentang anak-anaknya, ia berujar," Saya tak berambisi anak-anak saya terjun ke dunia bisnis, seperti yang saya tekuni sekarang." Dalam mendidik putra-putrinya, menurutnya, ia lebih modern dibandingkan ayahnya. " Saya malah berharap, moga-moga anak saya jangan bekerja di Lippo," kata James yang membebaskan anak-anaknya memilih masa depannya.

Di luar kesibukannya membesarkan bisnis Lippo, James turut andil dalam organisasi olahraga sebagai ketua bidang dana PBSI. Bahkan saat berlangsung kejuaraan Piala Thomas dan Uber, ia menjabat sebagai wakil manajer. Tak hanya itu, Lippo tercatat sebagai sponsor utama kejuaraan bulutangkis paling bergengsi dunia tersebut pada 1996t, di Hong Kong. Tentang keterlibatannya dalam kepengurusan PBSI, tak lain karena ia menyenagi olah raga tersebut. "Sebulan bisa dua kali main bulutangkis," ujarnya.

Sebagai taipan terkemuka di tanah air, James memimpikan Grup Lippo dapat menjadi kelompok perusahaan yang tangguh, seperti perusahaan-perusahaan publik di Amerika dan Eropa. Anak keempat pasangan Mochtar Riady dengan Suryawai Lidya ini lahir di Jember. Sejak kecil James telah dipersiapkan secara serius oleh sang ayah untuk jadi pedagang. Di usia delapan tahun James sudah disekolahkan bapaknya di Macau. Sang ayah memang berharap banyak darinya. "Saya tahu kenampuan James, dan saya ingin dia sejak kecil sudah belajar mandiri."

Empat tahun di Macau, James melanjutkan studi di Australia selama delapan tahun. Pada 1975, saat usianya 18 tahun, ia terbang ke New York AS, dan bekerja selama setahun pada lrving Trust Banking Company. Pada 1976, James pindah ke Little Rock, Arkansas, masih di AS. Di kota inilah debutnya mulai tampak, dengan mendirikan bank yang diberi nama Worthen Bank dengan modal awal US$ 20 juta. Ia bekerjasama dengan Jack Steven, sahabat kental ayahnya, seorang bankir terkenal dengan julukan god father-nya masyarakat Arkansas.

Lewat Jack Steven, James dikenalkan dengan tokoh-tokoh politik ternama AS. Seperti Jimmy Carter, para senator, serta Bill Clinton, yang kemudian menjadi presiden AS. Persahabatannya dengan Clinton berlanjut hingga kini. Saat ia dipercaya oleh Jack Steven, sebagai Presdir Worthen Bank pada 1984, isteri Clinton, Hillary, menjadi pengacara pada bank yang dipimpinnya. Saat itu, hubungan akrab mulai terbentuk. Kebetulan tempat tinggal keduanya saling berdekatan, dan mereka pun sudah biasa saling mengunjungi.

Bahkan hingga Clinton menjadi orang nomor satu di negerinya, persahabatan itu terus berlanjut. Ketika diadakan Clinton Economic Conference, misalnya, James adalah satu-satunya orang di luar AS yang diundang secara pribadi oleh sang presiden. Dan pada saat upacara pelantikan Clinton sebagai presiden, keluarga besar Mochtar Riady diundang menghadiri acara tersebut. Seusai upacara, Mochtar dan isteri, James dan isteri beserta anak-anaknya, diundang sehari penuh untuk menikmati hari bahagia dalam kehidupan keluarga presiden. Tentang persahabatannya dengan peminpin dunia itu, ia berujar, "Sudahlah, itu cuma hubungan biasa, hubungan antarkawan." Kemampuannya bergaul dengan berbagai kalangan adalah salah satu kelebihan yang dimilikinya, dibandingkan dengan eksekutif lainnya.


Copyright © PDAT