Edisi 15/03 - 13/Juni/1998

Tentang Kekayaan dan Bisnis Keluarga Habibie

Pola bisnis "kekeluargaan" rupanya bukan monopoli Soeharto. Keluarga BJ Habibie juga menerapkan pola yang sama. Keluarga Habibie diduga punya kekayaan sekitar 60 juta dollar AS. Apa saja bisnis keluarga Presiden Habibie? Benarkah Batam menjadi pulau "milik" keluarga itu? Mengapa Habibie tak segera mengumumkan kekayaannya?


HARTA Soeharto terus dilacak. Kejaksaan Agung sejak 1 Juni 1998 lalu secara resmi sudah memulai kerja besar itu. Jaksa Agung Soedjono A. Atmonegoro dalam wawancara dengan pers pekan ini bahkan meminta bantuan masyarakat untuk pelacakan harta pejabat pemerintah, termasuk Keluarga Cendana (lihat: Laporan Kekayaan Pejabat Disiarkan di Televisi Setiap Hari). Caranya: membuka Tromol Pos 777 untuk masyarakat yang mengetahui seluk beluk harta para pejabat, termasuk bekas orang nomor satu Indonesia yang diduga punya harta trilyunan rupiah itu (lihat: Main Petak Umpet: Sulit Menyembunyikan Aset Orang Tersingkir Seperti Soeharto).

Belum lagi urusan harta Soeharto mulai dilacak, harta Presiden BJ Habibie juga mulai diungkit-ungkit. Bekas orang nomor dua RI dan mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi itu diduga juga mempunyai kekayaan yang cukup besar. Pulau Batam disebut-sebut sebagai ajang bisnis keluarga Habibie. Malah, Jeffrey A. Winters mensinyalir bahwa Habibie dekat dengan urusan-urusan berbau kolusi, korupsi, nepotisme (KKN) sejak ia pulang dari Jerman ke Indonesia. Associate Professor bidang Ekonomi Politik pada Northwestern University AS ini menilai ada kejanggalan dalam hubungan antara BJ Habibie dengan bekas Dirut Pertamina Ibnu Sutowo. Winters di tahun 1989 pernah mewawancarai Ibnu Sutowo. Nama terakhir ini disebut Winters sebagai orang yang membuat Pertamina bangkrut karena menanggung utang 15 milyar dollar AS pada pertengahan 1970-an. Ibnu, sebelum dipecat, dianggap Winters sebagai operator Presiden Soeharto untuk mencari dana politik. Ibnu yang tak pernah diajukan ke pengadilan ini juga dicap Winters sebagai orang dekat Soeharto yang bahkan sampai bisa menandatangani rekening-rekening Soeharto di Swis.

Adalah Ibnu yang membawa pulang BJ "Rudy" Habibie ke Jakarta. Dan bau KKN muncul setelah tiba-tiba saja Rudy Habibie diangkat sebagai "penasehat Dirut Pertamina" pada 1974-1978. Dan kemudian Rudy Habibie masuk kabinet sebagai Menristek yang menguasai banyak jabatan -- di antaranya ia memimpin sejumlah industri strategis.

Di kabinet, Habibie juga ditunjuk memimpin Otorita Batam. Rupanya, menurut Winters, Habibie kemudian menangguk banyak keuntungan dari Batam. Sebut saja PT Bimatama Dharma Perkasa, yang merupakan gabungan usaha yang dijalankan Timmy Habibie, adik Rudy, dengan putra Soeharto, Bambang Trihatmodjo. Ada lagi PT Citra Lingkungan Lestari, PT Indotri Mandiri Sakti, dan juga peternakan babi seluas 10 ribu hektar di Pulau Bulan, yang juga dijalankan Timmy Habibie (lihat: "Timmy Melaju Pesat Berkat Pengaruh Abangnya"). Soedarsono, adik ipar Rudy, juga lama menangani Batam. Pengusaha lain yang berusaha di Batam adalah "Yayuk" Habibie, adik Rudy, Tommy Soeharto, Liem Sioe Liong dan Harry Murdani, adik bekas Panglima ABRI LB Murdani.

Bau nepotisme juga ditebarkan BJ Habibie di berbagai industri strategis yang dipimpinnya. Anak-anak Habibie -- yang memang pandai-pandai itu -- ditaruhnya di IPTN dan BPPT. Begitu juga beberapa kerabatnya. Semua ini dengan cepat mengingatkan orang kepada Soeharto -- tokoh yang sangat dikagumi Habibie dan disebutnya sebagai "Profesor" itu.

Dari berbagai kegiatan berbau KKN itu, menurut ekonom asal Australia Michael Backman, seperti dikutip Majalah Far Eastern Economic Review (FEER), diperkirakan keluarga Habibie memiliki jumlah kekayaan 60 juta dollar AS.

Seperti Soeharto, kekayaan keluarga Habibie terbentang luas di berbagai bidang usaha. Mulai dari perkebunan, perdagangan, industri kimia, hingga pariwisata. Jika keluarga Soeharto menguasai berbagai macam bisnis di seluruh Indonesia, keluarga Habibie lebih banyak memusatkan kegiatan bisnisnya di Batam. Pulau itu berbatasan dengan Singapura dan akan dijadikan sebagai daerah industri. Berbagai kerjasama Indonesia-Singapura juga dibangun di sana.

Banyak kalangan menyebut Batam identik dengan Habibie. Maklum saja, sejak tahun 1978, Habibie ditunjuk sebagai Ketua Pengembangan Industri Batam yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Soeharto. Jabatan tersebut baru dilepasnya setelah MPR menunjuknya sebagai wakil presiden. Tak heran kalau keluarga Habibie begitu "mengakar" di Batam.

Jika Soeharto memiliki puluhan yayasan dan beraset trilyunan rupiah, Habibie hanya mengetuai beberapa yayasan saja. Dan ini sudah dilakukan sebelum ia menjabat sebagai wakil presiden dan presiden. Seperti Yayasan Pengembangan Teknologi dan Yayasan Bina Bhakti. Selain itu ada pula yayasan yang diketuai oleh anggota keluarganya. Seperti Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orbit, yang diketuai oleh Ibu Negara Ny. Asri Ainun Habibie dan Yayasan Keluarga Batam diketuai Sri Rejeki Habibie, adik Presiden.

Memang, belum jelas benar bisnis apa saja yang dilakukan oleh Habibie sebelum menjabat presiden. Namun, sebagai gambaran, dua putranya yaitu Ilham Akbar Habibie dan Kemal Tareq Habibie kini sudah memulai membangun imperium bisnis. Sedangkan sang adik, Suryatim Abdulrachman Habibie atau lebih dikenal dengan sebutan "Timmy" sudah lebih dulu berbisnis sejak 1977. Ia memiliki sejumlah perusahaan yang tergabung dalam Grup Timsco. Begitu pula dengan dua adik perempuannya, Sri Rejeki Habibie dan Sri Rahayu Fatima Habibie sudah mulai berkecimpung dalam dunia bisnis (lihat: Daftar Bisnis dan Beberapa Jabatan Yang Dipegang Keluarga BJ. Habibie+A1).

Siapa saja yang menjalankan bisnis keluarga orang nomor satu Indonesia itu? Berikut keterangan yang dikumpulkan TEMPO Interaktif dari berbagai sumber. Sayang sekali, Fanny Habibie yang dikontak untuk mengkonfirmasikan semua ini menolak bicara panjang lebar ketika dicoba diwawancarai TEMPO Interaktif (lihat: "Tidak Ingin Ada Orang Tuding Habibie").

RA Tuti Marini Puspowardoyo Habibie

Ibunda B.J. Habibie adalah pemegang saham sebanyak 25 persen PT Timsco Indonesia bersama putra bungsunya Timmy Habibie dan menantunya Miriam Habibie.

Subono Mantofani

Pemilik PT Citra Mantofani ini adalah suami dari kakak perempuan tertua Habibie, Titi Sri Sulaksmi Habibie. Tercatat sebagai pensuplai barang-barang (supplier) kepada IPTN. Putra Subono, Andrie Subono, tercatat sebagai pemilik PT Putralindo Persada yang bergerak dalam bidang transportasi laut.

Satoto Mohammad Duhri Habibie

Kakak laki-laki tertua B.J. Habibie yang biasa dipanggil dengan sebutan Toto ini adalah pemilik PT Habindo Satria Perkasa. Ia mendapat lisensi dari Badan Pengembangan Industri Batam untuk memasok 65 ribu ton minyak per tahun. Selain itu Sang Kakak juga tercatat sebagai pemasok barang-barang kebutuhan IPTN.

Alwini Karsum Habibie

Sayang, nama perusahaan kakak Rudy Habibie ini tidak diketahui. Namun, ia tercatat sebagai partner bisnis IPTN bidang asuransi, transportasi, dan pelayanan.

Junus Effendi Habibie

Mantan Dirjen Perhubungan Laut dan Dubes RI untuk Inggris ini adalah adik dari B.J. Habibie. Sempat menjabat Ketua Otorita Batam menggantikan sang kakak lantaran dilantik sebagai wakil presiden. Fanny -- begitu ia disapa -- belum lama ini mengundurkan diri sebagai penguasa Batam. "Saya mengundurkan diri agar tidak memberatkan tugas Habibie," alasannya. Tidak jelas apakah Fanny memiliki sejumlah perusahaan atau tidak. Namun, isterinya, Meike Mariam Habibie, tercatat sebagai pemilik saham sebanyak 20 persen di Timsco Indonesia.

Sri Rejeki Habibie

Adik B.J. Habibie ini menikah dengan Soedarsono Darmosoewito yang menjabat Asisten Ketua Otorita Batam selama 20 tahun. Sang Adik memang tidak bergerak dalam dunia bisnis, namun suaminya adalah salah seorang "pemain utama" di Batam. Dengan PT Bimatama Dharma Perkasa, Soedarsono berkongsi dengan Timmy dan Bambang Trihatmodjo membangun Batam Island Country Club. Tak hanya itu, dengan bendera PT Indotro Mandiri, purnawirawan mayor jenderal ini memegang hak khusus untuk membangun dan mengelola dua pelabuhan Batam.

Sedangkan melalui PT Citra Lingkungan Lestari, ia diberi hak istimewa untuk melakukan studi analisis dampak lingkungan untuk setiap investasi di Batam. Sewaktu masih menjabat, ia melicinkan Timmy bersama Timsco-nya untuk menguasai kawasan industri seluas 500 hektar di Batamindo Industrial Park.

Sri Rahayu Fatima Habibie

Bersama suaminya Muchsin Mochdar, adik Habibie yang biasa dipanggil Yayuk ini adalah pemilik perusahaan kontraktor PT Citra Harapan Abadi. Perusahaan ini bersama Tommy Soeharto dan Rocky Sukendar mengerjakan landasan pacu beberapa pelabuhan udara di Indonesia. Sedangkan di bidang perdagangan Yayuk punya PT Trimitra Upayatama. Ia juga tercatat sebagai pemasok utama PT PAL, IPTN, dan Pindad. Tak hanya memasok di perusahaan di bawah payung BPIS, tapi Yayuk juga memasok barang untuk Pertamina dan PT Krakatau Steel. Bersama kelompok Bimantara, Yayuk menjadi salah satu pemegang saham PT Nusa Tours and Travel.

Sementara itu, Muchsin Mochdar sendiri sudah jadi konglomerat dengan menguasai 14 perusahaan. Beberapa perusahaannya beroperasi di luar negeri, seperti di Australia. Di antara usahanya adalah bengkel mobil mewah dan perkebunan jeruk seluas 200 hektar di Australia. Tak hanya itu, pasangan ini juga memiliki rumah di Muenchen, Jerman.

Suryatim Abdurrahman Habibie

Di antara kakak dan adik B.J. Habibie, tampaknya Suryatim atau "Timmy" yang paling banyak memiliki usaha bisnis. Dengan bendera PT Timsco Indonesia, PT Alpha Tanjung Tangki Indonesia, PT Panadia Indah Dirgantara, dan PT Repindo Panca, gerak bisnisnya menyentuh semua sektor usaha. Mulai dari perkebunan, perdagangan, industri kimia, hingga transportasi. Dan kebanyakan kegiatan usaha bisnisnya bergerak di Batam. Diperkirakan Timmy memiliki jumlah kekayaan sebanyak satu hingga dua trilyun rupiah dengan 66 perusahaan.

PT Timsco Indonesia didirikan pada 1977 dan seluruh sahamnya dimiliki keluarga Habibie dengan komposisi 55 persen Timmy, 25 persen Ny. Tutie Habibie, Ibunda Presiden Habibie, dan 20 persen dimiliki oleh Miriam Habibie, isteri Fanny Habibie.

Adik bungsu Presiden Habibie ini juga melakukan kongsi dengan pengusaha-pengusaha kakap lainnya. Sebut saja dengan Ny. Siti Hardijanti Indra Rukmana atau Mbak Tutut, Timmy bergandengan di bidang telekomunikasi melalui PT Citra Telekomunikasi Indonesia dengan 25 persen saham. Dengan Grup Salim dan Bimantara, Timmy membentuk konsorsium dalam PT Herwindo Rintis. Masih dengan Mbak Tutut, Timmy melalui PT Suhamthabie ikut dalam konsorsium menggarap proyek terminal terpadu Manggarai -- proyek ini belum berjalan sampai sekarang.

Bersama Tommy Soeharto, Anthony Salim, dan Hary Moerdani, kakak mantan Pangab Beny Moerdani, Timmy mendirikan PT Sinar Culindo Perkasa. Perusahaan ini bergerak di bidang peternakan babi di Pulau Bulan, sebuah Pulau dekat Batam.

Ilham Akbar Habibie

Putra tertua Presiden Habibie ini tampaknya bakal mengikuti jejak ayahnya. Sepulang belajar dari luar negeri, Ilham langsung ditarik ke PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) Bandung. Namun, pengangkatannya sebagai pegawai IPTN banyak mendapat kritik lantaran berbau nepotisme. Pasalnya, Ilham langsung ditempatkan sebagai pegawai dengan pangkat Golongan IV C dan menduduki kursi salah satu direktur di perusahaan ayahnya itu.

Kiprahnya di bidang bisnis memang belum banyak kelihatan. Namun, ia tercatat sebagai pemilik PT Ilthabi Rekatama bersama adiknya, Tareq Kemal Habibie.

Tareq Kemal Habibie

Meski usianya masih muda, putra kedua Presiden Habibie ini sudah mulai merintis usaha bisnisnya. Dengan bendera PT Produk Indonesia, Tareq banyak mendapat limpahan proyek dari sang ayah ketika masih menjabat Menristek. Misalnya, penyelenggaraan pameran dirgantara di Jakarta dan pameran teknologi di Hanouver adalah salah satu kegiatan bisnisnya.

Di Batam, yang merupakan wilayah garapan bisnis paman dan tantenya, Tareq menguasai lahan seluar 16 hektar melalui PT Repindo Mitra Abadi untuk membangun galangan kapal senilai 100 juta dollar AS. Di bidang properti ia menguasai sejumlah lahan di Batam melalui PT Griya Rekatama Asri.

Besan dan Kerabat Keluarga Habibie

Laksamana Madya (Purn) Sudibjo Rahardjo, mertua Tareq, sebelumnya duduk sebagai penasihat Ketua Otorita Batam. Namun, berbarengan dengan semangat anti korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), bersama Fanny Habibie, ia mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

Letnan Jenderal (Purn) Z.A Maulani berbesan dengan adik ipar B.J. Habibie, Soedarsono Darmosoewito, suami Sri Redjeki Habibie. Putri Maulani, Olga, menikah dengan Cipto, putra Soedarsono. Kedekatan mantan Sekjen Departemen Transmigrasi ini juga terlihat dari hubungan bisnis menantunya, Eko, dengan putra Fanny Habibie, Nugi.

Dengan begini "kusutnya" hubungan bisnis Presiden Habibie dengan anak dan kerabatnya, bau KKN memang agak sulit ditutupi. Maka adalah wajar jika Habibie berdiri di depan dengan mengumumkan kekayaannya -- itu jika ia berniat benar-benar membersihkan KKN dari kabinetnya. Jika tidak, maka wajar juga isu dan gosip sekitar kekayaan Presiden Habibie akan "mengganggu" roda pemerintahannya, seperti juga tatkala Soeharto memerintah.

Jika dalam soal kekayaannya Habibie tak transparan, tidak bersedia mengumumkan apa saja miliknya, lalu apa bedanya ia dengan penguasa sebelumnya?

TH, ANY, PDP, HP

Copyright © PDAT