Edisi 08/03 - 25/April/1998

Menjual SBI Menekan Inflasi?

Bank Indonesia menjual SBI langsung ke masyarakat umum. Untuk menyedot dana masyarakat agar rupiah stabil dan menekan inflasi?
Bagaimana menyimpan uang secara aman? Kini tak lagi terbatas hanya dalam bentuk deposito yang bunganya lagi tinggi. Tapi, masyarakat bisa langsung membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang selama ini terbatas hanya bisa dibeli perbankan nasional.

Bunga yang ditawarkan Bank Indonesia (BI) dalam menjual SBI memang tidak setinggi bunga deposito yang ditawarkan perbankan nasional. Namun, kredibilitas Bank Indonesia tentu saja jauh lebih kuat dibandingkan perbankan nasional, yang belakangan ini agak terganggu dengan berbagai rumor sekitar kemungkinan dibekukan atau dilikuidasi oleh pemerintah.

Jurus Bank Indonesia yang paling baru yang diumumkan Wakil Kepala Urusan Riset Ekonomi dan Kebijakan Ekonomi Bank Indonesia, Didi Hartadi, di Jakarta akhir pekan lalu itu adalah SBI bisa dimiliki siapa pun, tidak terbatas hanya bank. Cara penjualannya pun dilakukan seperti halnya jual-beli saham di lantai bursa, yaitu melalui primary dealer, perusahaan pialang pasar uang ataupun bank

Suku bunga SBI sendiri seperti telah diumumkan Bank Indonesia, 23 Maret lalu, tetap tidak berubah untuk semua jangka waktu, yaitu untuk satu hari 40%, dua hari 41%, tiga hari hingga enam hari 42%, satu minggu 43%, dua minggu 44%. Akan halnya untuk satu bulan 45%, dua bulan 40%, tiga bulan 30%, enam bulan 20%, dan 12 bulan 18%.

Gebrakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga SBI memang telah berhasil menaikkan nilai tukar rupiah dari sekitar Rp 9.000 sampai Rp 10.000 per satu dolar AS menjadi tingkat tertinggi Rp 7.500 per satu dolar AS, walaupun belakangan ini kembali turun di sekitar Rp 8.000 per satu dolar AS.

Selain berupaya menstabilkan nilai rupiah, upaya BI menaikkan bunga SBI juga dalam rangka meredam tingkat inflasi yang dalam dua bulan terakhir cukup tinggi, yaitu melebihi 20%.

Namun, rupanya upaya penyedotan rupiah, sebagai instrumen untuk menekan inflasi dan meredam spekulan agar tidak menggunakan rupiahnya untuk membeli dolar, kurang berhasil dan tidak lagi memadai akibat sebagian dana yang ada di peredaran dewasa ini tidak lagi berada di tangan perbankan, namun sudah berada di luar sistem perbankan.

Penjualan SBI ke masyarakat luas tentu saja menjadi salah satu jurus baru BI agar penyedotan atau penambahan uang beredar kembali efektif. "Masyarakat pasti relatif terangsang membeli SBI, selain kredibilitas BI sebagai penerbitnya, juga karena suku bunga yang juga relatif tinggi," kata pengamat perbankan, yang juga Wakil Presiden Direktur BNP Lippo Indonesia, Priasmoro Prawiroarjo.

Akan halnya pengamat ekonomi Faisal Basri berpendapat, tidak ada jalan lain pada saat ini yang harus segera dilakukan pemerintah selain menaikkan lagi suku bunga SBI untuk menguatkan rupiah. Tidak ada faktor fundamental yang membuat rupiah menguat, kecuali efek yang muncul dari kebijakan peningkatan suku bunga SBI yang sudah menjadi tuntutan Dana Moneter Internasional (IMF).

Menurut Didi Hartadi, kebijakan menaikkan suku bunga SBI menyebabkan BI berhasil menyedot dana masyarakat mencapai Rp 29 triliun. "Sebanyak Rp 6 triliun di antaranya adalah investor asing, terutama dari Singapura. Jumlah dana SBI ini jauh lebih besar dibandingkan posisi dana SBI sebelumnya," ujar Didi.

Hanya, menurut Didi, investor SBI saat ini masih didominasi institusi seperti perusahaan dana pensiun, asuransi, atau lembaga keuangan. Adapun kepemilikan SBI secara perseorangan jumlahnya sangat kecil, di bawah satu persen. Karena itu, SBI harus dimasyarakatkan.

Menurut Direktur BI Miranda Gultom, selama ini sebenarnya masyarakat boleh membeli SBI. Namun, karena kurang dimasyarakatkan, mereka yang membeli SBI tidak banyak. Selain itu, selama ini suku bunga SBI relatif kecil dan masih lebih menarik suku bunga deposito. Belakangan ini, sejalan dengan semakin merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional, memasyarakatkan penjualan SBI ini tentu saja cukup menarik.

Selain itu, tetap dipertahankannya suku bunga SBI ini tentu saja salah satu bagian dari kebijakan BI untuk terus mengetatkan likuiditas agar tidak digunakan untuk spekulasi membeli dolar. Apalagi, jumlah uang yang beredar dan likuiditas perekonomian meningkat cukup besar belakangan ini.

Namun, ada satu hal yang harus diperhatikan oleh BI. Kebijakan mempertahankan suku bunga SBI tetap tinggi tentu saja bisa berdampak buruk terhadap perekonomian nasional. Perusahaan-perusahaan yang semula bermasalah, karena tak memiliki uang valas, pun bisa jadi akan semakin ambruk sebab mereka tidak mampu lagi meminjam rupiah ke bank dengan bunga kredit yang kini mencapai 70%.

Atau, pemerintah menyadari bahwa perusahaan-perusahaan itu memang sudah dianggap tidak bisa bergerak lagi saat ini. Karena itu, prioritas utamanya, walaupun dengan risiko berlanjutnya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran akibat banyak perusahaan yang tutup, yaitu dengan memperkuat mata uang rupiah dan menekan inflasi. Memang sulit jadinya, maju kena, mundur pun bisa kena. Inilah dampak resesi.

Muhammad Jusuf/Laporan Silvester Keda

Majalah D&R, 25 April 1998

Copyright © PDAT