Edisi 10/02 - 10/Mei/97
Pokok & Tokoh

Ardhia Pramesti Regita Cahyani Soerjosoebandoro :
Tujuh Hari Sebelum Itu*

Ardhia Pramesti Regita Cahyani SoerjosoebandoroTIBA-tiba sebuah nama melejit dalam masyarakat Indonesia. Kurang dari sebulan, mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua akan menjawab dengan tepat bila ditanya, misalnya, "Tahu, siapa itu Tata?"

Jadi, siapa Tata? Nama lengkapnya Ardhia Pramesti Regita Cahyani Soerjosoebandoro. Dua puluh dua tahun usianya, tinggi semampai perawakannya, dan berwajah manis dengan warna kulit sawo matang. Nama paling belakang, mudah ditebak, pasti nama sang ayah. Bagi mereka yang mengenal budaya Jawa (maksudnya Solo dan Yogya), akan segera meraba, adakah ia masih keturunan keluarga keraton, entah Kasunanan atau Mangkunegaran di Solo, ataukah Kasultanan di Yogya?

Tak sulit dijawab, karena media massa sejak minggu pertama bulan April lalu menulis tentang Tata. Ia seorang gadis dari keluarga berada, ayahnya menjadi kepala perwakilan perusahaan pelayaran PT. Andhika Line di Singapura, dan karena itu ia berpendidikan di luar negeri sejak sekolah dasar. Kini pun, Tata masih terdaftar sebagai mahasiswi Jurusan Pertamanan Universitas New South Wales, Sydney, Australia. Dan, sebetulnya, di depan namanya ada sebuah gelar: Raden Ayu. Jadi, ia memang berdarah keraton dan memang sang bapak masih kerabat Mangkunegaran.

Dan, ia menjadi berita, waktu itu, karena direncanakan pada 30 April pekan lalu Tata akan menjalani upacara pernikahan dengan Hutomo Mandala Putra. Dengan kata lain, Tata akan menjadi menantu Presiden Soeharto -- dan ternyata rencana itu berjalan lancar. Kini, Tata resmi menjadi istri Tommy Soeharto, 35 tahun.

Pernikahan itu dilangsungkan di Pendopo Agung Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, bisa diikuti di televisi. Dan, bila para tamu dan pemirsa televisi terkesan oleh keayuan mempelai wanita, ada rahasianya. Begini ceritanya :

Suatu hari, beberapa hari sebelum hari pernikahan, Tata diantar eyang putrinya, yaitu Ibu Mulyadi, ke rumah ahli perawatan kecantikan tradisional keraton Jawa di Jalan Mangun Sarkoro, Jakarta. Itulah rumah yang penghuninya tak asing lagi bagi mereka yang menyukai perawatan kecantikan model Jawa, Ny. B.R.A. Mooryati Soedibyo. Permintaan Ibu Mulyadi tidak seperti biasanya, tapi agar Tata mendapatkan perawatan dengan tradisi "Kamajaya-Kamaratih". Nama itu, Kamajaya dan Kamaratih, cukup dikenal bagi penggemar wayang. Itulah nama sepasang dewa asmara dalam dunia perwayangan Jawa. Tapi, mengapa tradisi Kamajaya-Kamaratih?

Menurut Ny. Mooryati, yang ternyata masih kerabat Ibu Mulyadi, perawatan menjelang perkawinan seperti yang diminta itu adalah perawatan paripurna, yang pada zaman dulu hanya diberikan ke kerabat raja dan bangsawan yang dekat dengan raja. "Itulah gabungan antara perawatan dalam minum jamu dan perawatan luar dari ujung rambut hingga ujung kaki," kata Mooryati, yang juga dikenal sebagai pemilik produk kosmetik tradisional.

Dan, masuklah Tata dalam "pingitan", seminggu penuh tak boleh ke mana-mana, sementara Mooryati dan para asistennya merawat sang calon pengantin. Menurut Mooryati kepada Wartawan D&R Titi Rastiti, "Seharusnya perawatan itu 40 hari penuh." Tapi, karena zaman sekarang bukan zaman dulu, 40 hari itu pun diringkas menjadi sepuluh hari.

Dalam seminggu itu, tutur Mooryati, tubuh Tata dibalur dengan minyak-minyak berkhasiat dan beraroma khusus, antara lain minyak atsiri, yang terdiri dari campuran minyak akar wangi, minyak ilalang, minyak cendana, minyak pala, dan sebagainya. Minyak-minyak itu, menurut Mooryati pula, punya khasiat sendiri-sendiri: untuk menghilangkan stres, membuat rileks, dan lain-lain.

Tubuh Tata juga dipijat secara khusus agar hilang rasa pegal-pegalnya dan tahan lapar. Lalu, ada lulur seluruh tubuh untuk membersihkan dan menghaluskan kulit. Untuk menghilangkan lulur, Tata mandi rempah-rempah yang ramuannya terdiri dari daun sirih, daun rejoso, kunyit, temu giring, dan sebagainya. Itulah ramuan ampuh untuk aroma badan wangi senantiasa, menghilangkan keputihan, dan menghilangkan gatal-gatal pada kulit.

Bukan cuma obat luar, ada juga ramuan yang harus diminum, yakni ramuan yang disebut Kamajaya-Kamaratih dan minuman delima putih. Mandi rempah-rempah adalah cara membuang bau badan dari luar dan ramuan Kamajaya-Kamaratih menyingkirkan bau itu dari dalam. Maka, bau keringat pun akan menjadi harum. Belum cukup, rambut Tata dirawat dengan ratus, biar kering tapi lemas, dan, ya, harum itulah. Semua itu dijalani Tata dalam kondisi berpuasa. Begitulah memang syaratnya pada zaman itu.

"Semua itu saya persiapkan sendiri," tutur Mooryati. Dan, itu semua masih ditambah kursus kecantikan merias diri secara kilat. Kenapa? "Wah, Tata selama ini tidak pernah dandan," ujar sang perawat. Dan, terakhir, Ny. B.R.A. Mooryati, yang juga masih berdarah bangsawan, membekali Tata dengan hal-hal yang sifatnya spiritual, yang diperlukan seorang istri, nanti. "Ya, supaya Tata tidak kaget menjalani pernikahan ini," cerita Mooryati. Apa yang dinasihatkan kepada Tata? Nyonya berkacamata itu hanya tersenyum.

Lalu, bagaimana soal pemadatan waktu dari 40 hari menjadi hanya seminggu? Tidak apa-apa. Kata Mooryati, "Sebab, dia sudah cantik, kulitnya sudah mulus, dan tidak ada keluhan yang lain." Ditambah, tak perlu ada perawatan gigi. Tata sudah memiliki gigi sebagaimana ungkapan Jawa mengatakan: untune mrada timun. Maksudnya, giginya bak sederet biji mentimun: kecil-kecil, rata, harmonis. Itulah.

Tapi, mengapa Tata harus mendapat perawatan yang begitu istimewa? Itu bukan karena ia calon menantu presiden atau bakal menjadi istri seorang pengusaha yang bakal memelopori lahirnya mobil nasional. Itu karena Tata masih trah (berdarah) Mangkunegaran, tepatnya ia ternyata masih cucu canggah (keturunan keempat) dari K.G.P.A.A. Mangkunegoro V. Dan, ternyata Tata yang lama di luar negeri tak menolak hal-hal seperti itu. "Walaupun Tata lama di luar negeri, ia tidak melupakan budaya Jawa," ujar Mooryati pula, "ia mengaku merasa cocok dengan apa saja yang saya lakukan kepadanya."

Dan, itu semua tujuannya cuma satu: agar sang mempelai wanita pecah pamore atau muncul segala sifat keayuannya luar-dalam ketika dipertemukan dengan calon suaminya. Tata akan tampak cantik, berseri, dan manglingi (tak lagi seperti Tata yang dikenal sehari-hari). Singkat cerita, itulah tradisi keraton Jawa yang mencoba menciptakan sang mempelai wanita bak Dewi Kamaratih turun ke Taman Mini Indonesia Indah.

Adapun hasilnya, kami serahkan kepada para pemirsa dan pembaca.

*)D&R, 10 Mei 1997


Copyright © PDAT