Edisi 07/02 - 19/Apr/97
Analisa & Peristiwa

Wawancara Mayjen (purn.) Z.A. Maulani :
"ABRI Tidak Cukup Berbekal Otot Saja"


Mayjen (purn) Z.A. MaulaniSeperti apa pemimpin ABRI masa datang? Ini pertanyaan yang banyak beredar akhir-akhir ini. Peran ABRI di masa depan sepertinya semakin penting, mengingat semakin rumit dan beragamnya permasalahan yang akan dihadapi Indonesia. Itu pendapat Mayjen (purn.) ZA Maulani, mantan Panglima Kodam VI/Tanjungpura dan Sekjen Departemen Transmigrasi yang kini mengajar mata kuliah Politik Cina di Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UNTAG, Jakarta.

Bagaimana tepatnya peran itu. Berikut wawancara Iwan Setiawan dari TEMPO Interaktif dengan Zein A. Maulani, 58 tahun, pada 15 April lalu di rumahnya, di kawasan Bintaro Jakarta Selatan.


Menurut Anda, bagaimana kondisi ABRI saat ini ?

Secara organisatoris ABRI semakin baik, maksudnya semakin profesional. Hal itu didorong oleh perkembangan situasi yang ada, selain menguasai bidang hankam, ABRI juga dituntut untuk memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.

ABRI semakin profesional, apa maksudnya ?

Artinya untuk memahami yang terjadi dalam masyarakat saat ini, ABRI tidak hanya cukup berbekal "otot" saja, tetapi juga pengetahuan di bidang ilmu sosial, ekonomi, budaya juga agama. Misalnya, dalam menangani masalah dengan menggunakan pendekatan keamanan, tidak cukup dilakukan secara fisik saja. Yang terpenting adalah memperlakukan rakyat secara manusiawi. Jadi pendekatannya lebih persuasif, misalnya melalui dialog.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi ABRI di masa depan?

Jika pada "era perang dingin" dahulu musuh yang dihadapi jelas terlihat dari ideologi yang dianut suatu bangsa, pada jaman pasar bebas nanti persoalan yang dihadapi akan lebih rumit. Karena tantangannya tidak hanya berasal dari bangsa yang berbeda ideologinya, tetapi dari kekuatan lain yang juga berbahaya, seperti misalnya kekuatan ekonomi para Cina perantauan yang kekayaannya ditaksir sekitar 5 triliun dollar Amerika. Dengan uang sebanyak itu, mereka dapat memaksakan kepentingan mereka kepada pemerintahan suatu negara. Istilah "money is power" akan berlaku, karena uang tidak mengenal tanah air, negara atau bangsa. Hal itu sulit kendalikan dan secara cepat mampu menggoncangkan kestabilan negara. Ancaman seperti itu jauh lebih berbahaya dari ancaman ideologi.

Menurut anda apa kekurangan ABRI sendiri ?

Banyak personel ABRI yang cenderung bertindak berdasarkan emosi pada saat menggunakan pendekatan keamanan untuk menangani masalah yang terjadi di lapangan. ABRI masih kurang demokratis dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya.

Apa langkah yang seharusnya dilakukan ABRI ?

Personel ABRI harus belajar untuk berpikir "dingin", sehingga mampu melihat akar permasalahan secara lebih jernih serta dapat menangani suatu masalah secara lebih manusiawi, tidak berdasarkan emosi saja. ABRI perlu bersikap lebih demokratis, terutama menurut saya, perwujudan nyata pasal 30 Undang Undang Dasar 1945.

Menghadapi hal itu, seperti apa kira-kira pemimpin yang dibutuhkan ABRI ?

Yang pertama, pemimpin itu haruslah seseorang yang mencintai tanah air, bangsa dan negara di atas segalanya, sehingga ia tidak meninggalkan kewajibannya hanya karena uang semata. Kedua, ia harus pandai, berilmu dan terbuka terhadap setiap masukan dan kritik, sehingga cukup netral dan obyektif dalam memandang setiap masalah. Ketiga, ia harus mempunyai etika dan moral yang baik.

Apa diperlukan syarat khusus untuk menjadi pemimpin ABRI?

Pertama, ia harus mempunyai potensi kepemimpinan yang besar, artinya punya kepribadian yang matang serta disiplin dalam bertugas, dan mampu menjadi teladan bagi anak buah dan lain-lainnya. Kedua, ia didukung oleh teman-temannya, hal itu penting, karena kesuksesannya dalam bertugas nanti, lebih ditentukan oleh dukungan dan kerja sama dengan teman-temannya. Yang terakhir adalah nasib baik, contoh sederhana: jika saya masih hidup sampai saat ini, itu karena nasib baik. Hal itu penting, karena dalam ABRI sebelum seseorang sampai pada tingkat pimpinan, ia akan mengalami banyak penugasan dari pertempuran satu ke pertempuran yang lain. Jika ia berhasil dan selamat, ia akan naik pangkat, tetapi jika gagal ia akan menemui ajal.

Siapa kira-kira perwira yang cocok untuk duduk di pucuk pimpinan ABRI nanti?

Siapa saja bisa, asalkan memenuhi syarat-syarat seperti di atas dan sesuai dengan kebutuhan ABRI di masa mendatang. Karena menurut saya banyak perwira yang saat ini mampu .

Bagaimana dengan Letjen Wiranto atau Letjen Hendropriyono? Atau siapa kira-kira yang punya harapan besar untuk menggantikan pucuk pimpinan ABRI ( Menhankam, Pangab atau KSAD) yang sebentar lagi akan memasuki pensiun ?

Saya melihat ada banyak perwira yang baik , tetapi hanya sedikit dari mereka yang saya kenal dengan baik. Jadi tidak adil dan tidak obyektif rasanya jika saya memberikan penilaian bahwa Si A baik untuk kedudukan ini, sedangkan Si B tidak, sepertinya sulit bagi saya untuk menilai siapa yang paling baik di antara perwira-perwira muda tersebut, begitu kira-kira penilaian saya.

Bagaimana dengan Mayjen Prabowo yang dikenal sebagai prajurit dengan karir cemerlang?

Ya, ia memang seorang cerdas dan sangat kritis, bahkan dalam suatu forum ia seringkali berani mengeluarkan pendapat yang berbeda dari yang lain. Mungkin darah cendekiawan itu berasal dari ayahnya (Prof. Soemitro Djojohadikusmo-ekonom ternama Orde Baru, Red.) dan juga hasil didikan keluarganya. Tetapi perlu diingat bahwa sejak dulupun telah ada prajurit ABRI yang tidak hanya jago bertempur tetapi juga cerdas, seperti misalnya Jenderal Nasution atau T.B Simatupang. Jadi Prabowo bukan satu-satunya perwira yang cerdas.

Copyright © PDAT